loading...

Makna dan Filosofi Blangkon


Sahabat yang budiman! Sebagai warga negara Republik Indonesia, kata blangkon tentu sudah tidak asing lagi buat kita semua. Penutup kepala yang telah melegenda ini tentu tidak sama dengan topi, peci, sorban ataupun tanjak bagi orang melayu. Blangkon dibuat lebih spesifik karena bahan dasar blangkon itu sendiri adalah batik yang merupakan salah satu ikon kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

loading...
Batik sendiri menurut pengertiannya merupakan  kain bergambar yang dibuat khusus dengan cara menuliskan lilin pada kain mori (kain tenun berwarna putih, bahan untuk membuat batik). Kemudian kain tersebut diolah melalui proses tertentu sehingga menjadi pakaian yang bernilai guna tinggi dan bermanfaat bagi khalayak ramai.

Sementara itu, secara terminologi dan etimologinya, batik sendiri  berasal dari bahasa Jawa yaitu dari kata “mbat” yang bermakna melempar dan “titik”, yang berarti melempar titik berkali-kali pada kain. Secara sederhana,  batik merupakan seni dalam menghias kain dengan penutup lilin untuk membentuk corak hiasan tertentu serta membentuk sebuah bidang pewarnaan yang menarik dan indah.



Karena bahan dasar batik tersebutlah, maka blangkon sudah sangat populer hingga ke manca negara. Tak jarang para wisatawan manca negara sangat senang dan bangga memakai blangkon,  bahkan menjadikan blangkon sebagai souvenir kebanggaaan ketika berkunjung ke Indonesia untuk dibawa ke negara asalnya.

Walaupun selama ini persepsinya blangkon selalu  identik atau erat kaitannya dengan orang jawa karena  telah menjadi simbol tersendiri bagi suku jawa, tetapi bukan berarti bahwa suku lain tidak suka memakainya. Selain suku jawa ternyata suku lain yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia juga menyukainya. Blangkon justru telah menjadi salah satu aset nasional yang harus tetap dilestarikan  dan menjadi salah satu aset kebanggaan bangsa Indonesia.

Begitu populernya blangkon ini hingga menjadi inspirasi untuk sebuah nama sistem operasi berbasis linux yang dinamai dengan Blangkon. Lebih spesifik lagi, blangkon hanya digunakan oleh kaum laki-laki/pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.

Berdasarkan wujudnya blangkon terbagi menjadi empat:
     1.Blangkon Ngayogyakarta
     2.Blangkon Surakarta
     3.Blangkon Kedu
     4.Blangkon Banyumasan

Sahabat yang budiman! Sekilas informasi bahwa bentuk blangkon dengan gaya Yogyakarta hanya terdapat dua buah, yaitu : blangkon dengan bentuk Mataraman dan blangkon dengan bentuk Kagok. Kedua blangkon tersebut terbentuk dari bagian-bagian yang hampir sama, yaitu wiron/wiru, mondolan, cetetan, kemadha, dan tanjungan. Sementara jika kita kaji blangkon surakarta maka sebenarnya kita juga berbicara mengenai Kota Surakarta, terbayang jelas karakter dari masyarakat yang halus dan ramah.

Selain itu hal yang paling erat kaitanya dengan Kota Solo adalah kebudayaan. Apabila kita telisik lebih mendalam mengenai kebudayaan Kota Solo, ada salah satu cirikhas unik yang masih eksis hingga saat ini, yaitu blangkon. Beberapa motif blangkon Solo antara lain; motif solo muda atau motif keprabon, motif kasatrian, motif perbawan, motif dines , motif tempen. Motif tempen digunakan untuk abdi dalem yang diutus ke Loji atau ke kantor karisidenan atau kantor Belanda pada zaman dahulu.

Model ini memakai sunduk jungkat dari penyu atau tanduk kerbau. Kemudian ada juga motif wulung kemolo, cacaran moncip ompak, dan yang tertinggi adalah motif modang. Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa.

Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon Surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.

Tahukah kamu, ternyata bukan hanya orang yang berasal dari suku jawa saja yang menggunakan blangkon sebagai penutup kepala sesuai dengan adat mereka. Masih ada suku lain juga yang menggunakannya. Sebagai contohnya orang sunda yang mana juga menggunakan blangkon sebagai penutup kepala sesuai dengan adat mereka.

Selain itu, perlu juga kita meluruskan bahwa ada beberapa anggapan masyarakat tentang filosofi blangkon Jawa/Yogyakarta dengan mondolan yang sering dianggap sebagai watak orang Jawa yang "suka main belakang" tidak terus terang dan licik. Hal ini tentu saja tidak benar dan sangat menyesatkan untuk dipercayai karena sesungguhnya blangkon justru memiliki pesan kewibawaan dan jiwa satria bagi siapapun yang memakainya.

Sahabat  yang budiman! Makna dan filosofi adiluhung dari blangkon adalah makna yang mengungkapkan perasaan dan harapannya dengan simbol-simbol unik dan artistik yang sebenarnya mengandung ajaran yang patut dijadikan pedoman dan teladan, yaitu dimana pun orang jawa berada tetap harus tahu jati dirinya (Jangan sampai Wong Jawa kari separo/ilang Jawane), walaupun secara konsep kita juga harus tetap menjunjung budaya dan adat istiadat di tempat kita sebagaimana pepatah dimana bumi dipijak disitu langit di junjung.

Jati diri tetap harus ada dan dimiliki oleh siapapun karena pada prinsipnya semua suku, agama, ras dan kepercayaan tetap membawa pesan yang baik dan positif untuk menjadi pedoman dan panduan agar hidup kita lebih baik.

Sahabat yang budiman, beberapa istilah yang terkandung dalam blangkon yang merupakan filosofi blangkon itu sendiri adalah: 1). Wiron/wiru yang berjumlah tujuh belas lipatan yang melambangkan jumlah rakaat sholat dalam satu hari. 2). Mondolan mempunyai makna kebulatan tekad seorang pria dalam melaksanakan tugasnya walaupun tugas yang diberikan sangat berat. 3).Cetetan, mempunyai makna permohonan pertolongan kepada Allah SWT. 4).Kemadha, bermakna menyamakan atau menganggap sama seperti putra sendiri dan lambang 5). Tanjungan mempunyai makna kebagusan, artinya supaya terlihat lebih tampan sehingga disanjung-sanjung dan dipuja.

Sahabat  yang budiman,  makna simbolis motif yang diterapkan pada pembuatan blangkon ada delapan, yaitu: 1). Motif Modang, mengandung makna kesaktian untuk meredam angkara murka, yaitu sebelum mengalahkan musuh dari luar harus mengalahkan musuh yang datangnya dari dalam sendiri. 2). Motif Celengkewengen, menggambaran keberanian juga berarti sifat kejujuran, polos dan apa adanya 3). Motif Kumitir, merupakan pengambaran orang yang tidak mau berdiam diri dan selalu berusaha keras dalam kehidupannya. 4). Motif Blumbangan, berasal dari kata blumbang yang berarti kolam atau tempat yang penuh dengan air. Air sendiri merupakan salah satu dari sumber kehidupan. 5). Motif Jumputan, berasal dari kata jumput yang berarti mengambil sebagian atau mengambil beberapa unsur yang baik. 6). Motif Taruntum, motif ini berbentuk tebaran bunga-bunga kecil yang melambangkan bintang dimalam hari.maknanya bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari dua hal, seperti gelap terang, bungah susah, kaya miskin dan sebagainya. 7). Motif Wirasat, artinya berupa pengharapan supaya dikabulkan semua permohonannya dan bisa mencapai kedudukan yang tinggi serta bisa mandiri terpenuhi secara materi.  8). Motif Sido Asih, motif ini mempunyai harapan agar mendapat perhatian dari sesama dan saling mengasihi.

Sahabat yang budiman! Sebagai tambahan,  adanya mondolan di blangkon ngayogyakarta telah dibakukan oleh Hamengkubuwono VII, yang bertujuan untuk menyiasati rambut pria Jogja yang sebelumnya panjang mulai dipengaruhi budaya barat dengan memotongnya pendek seperti kita sekarang. Jadi rambut yang sebelumnya dimasukkan pada bagian belakang udheng/blangkon yang membuat adanya tonjolan rambut pd belakang blangkon diganti dengan tonjolan mondolan. Adapun adaptasi ini tidak terjadi pada blangkon gaya Solo sehingga pada blangkon Solo kempes di belakang.

loading...
Sahabat yang budiman! Ternyata pada zaman dulu, blangkon hanya boleh dibuat oleh para seniman keraton dengan pakem (aturan) yang baku. Seperti halnya keris dan batik. Semakin blangkon yang dibuat memenuhi pakem, maka blangkon itu akan semakin tinggi nilainya. Seorang pembuat blangkon membutuhkan virtuso skill atau keahlian keindahan. Letak keindahan dari blangkon, selain dilihat dari pemenuhan pakem juga cita rasa sosial. Apalagi pakem blangkon sesungguhnya bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para pemakainya.

Sahabat  yang budiman! Ternyata blangkon memiliki filosofi transcendental antara mahluk dengan pencipta -Nya. Bila diperhatikan maka blangkon akan memiliki dua ujung kain yang mana satu mensimbolkan syahadat Tauhid dan satu lagi mensimbolkan syahadat Rasul. Bila dua syahadat tersebut disatukan maka akan menjadi syahdat ‘ain. Bila pertemuan dua syahadat tersebut diletakan diatas kepala artinya berada di tempat yang terhormat. Harapannya segala pemikiran yang keluar dari kepala didasarkan pada sendi-sendi Islam. Kini dalam perkembangan waktu, dari ikat kepala juga dapat diketahui asal usul seseorang.

Di dalamnya terdapat identitas yang di wakili oleh wiron, jabehan, cepet, waton, kuncungan, corak dan ragam hiasnya. Semakin tinggi nilai yang diwakili maka kelas sosial pengguna blangkon dipastikan akan semakin tinggi pula. Namun tetap saja nilai utama yang hendak disampaikan adalah bentuk pengendalian diri. Jangan sampai kepala sebagai pusat dari tindak tanduk tidak terkontrol dengan baik. Nilai filosofis lain yang ada terlihat dari ada tidaknya mondolan adalah bentuk representasi dari orang Jawa khususnya Jogja yang suka menyembunyikan perasaan. Perasaan yang disembunyikan tersebut pada akhirnya akan muncul juga.

Demikian sahabat  yang budiman! Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu para sahabat sekalian dalam memelihara warisan budaya yang ada dinegara kita. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Dua kalimat inspiratif tersebut tentu akan selalu kita pegang sebagai pedoman dalam hidup kita!

Post a Comment

8 Comments