Makna dan Filosofi Kain Songket



Sahabat  yang budiman! Kain songket sering menjadi simbol dan lambang kebesaran  yang dikenakan sebagai pelengkap baju adat melayu ataupun adat lainnya dalam berbagai  acara resmi seperti pernikahan, peresmian kegiatan, peresmian proyek infra struktur, penganugerahan gelar adat, perpisahan sekolah, pelantikan pejabat pemerintahan, penyambutan tamu kehormatan/kenegaraan, dan lain-lain.

loading...
Hal tersebut menandakan bahwa, kain songket bukan hanya berfungsi sebagai pelengkap baju adat melayu tetapi kain songket telah menjadi simbol, lambang sekaligus harapan buat semua orang untuk memupuk rasa optimisme yang tinggi terhadap suatu rencana dan pelaksanaan sebuah kegiatan. Kain songket juga telah menjadi lambang kebersamaan dan persatuan untuk semua anak bangsa tanpa melihat asal-usulnya.

Sahabat  yang budiman dan inspiratif! Dalam sebuah acara yang lingkupnya kecil seperti acara perkawinan pun, songket tetap menjadi simbol kebesaran bagi kedua mempelai pada saat akan disandingkan di pelaminan. Kedua mempelai pasti akan sangat terlihat anggun apabila mengenakan busana kain songket. Bahkan kain songket yang dikenakan pasti akan diabadikan dalam bentuk albul kenangan pada hari itu.

Begitu juga dengan tuan rumah dan tamu undangan, apabila mereka mengenakan seragam baju melayu lengkap dengan kain songketnya, maka akan semakin berasalah acara tersebut. Aura kemewahan berpadu dengan rasa khidmat bagi para peserta dan tamu undangan yang hadir pada hari itu.

Sahabat  yang budiman dan inspiratif! Sebagai simbol dan lambang kebesaran bagi yang memakainya, ternyata kain songket juga tidak dibuat asal asalan (asal jadi). Kain songket dibuat dari rangkaian benang yang tersusun serta teranyam rapi dan teratur. Hal ini menunjukkan bahwa kain songket tidak dibuat dengan keahlian yang biasa-biasa aja, tetapi membuat kain songket benar-benar membutuhkan keahlian tersendiri.

Kain tenun ini dibuat dengan keahlian dan ketelitian yang tinggi agar menghasilkan songket yang indah dan mempunyai kesan mewah. Kilauan warna emas pada kain songket bermakna kejayaan pada masa lalu yang menjadi semangat untuk meraih kesuksesan dan kejayaan pada masa-masa yang akan datang.

Sahabat  yang budiman dan inspiratif! Ternyata kain songket dulunya digunakan dan menjadi lambang busana kebesaran oleh kalangan istana dan para pejabat kerajaan seperti kerajaan Siak Sri Indrapura di Riau, kerajaan Pagar Ruyung di Sumatera Barat, Kerajaan Samudera Pasai di Nangroe Aceh Darussalam, Kerajaan Sri Wijaya di Sumatera Selatan, dan berbagai kerajaan lain di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.  Songket merupakan peninggalan yang sekaligus warisan busana adat istiadat dari berbagai kerajaan yang tersebar di Nusantara yang harus terus dilestarikan.

Sahabat yang budiman dan inspiratif! Layaknya  hidup kita sebagai manusia yang penuh dengan simbol – simbol, ternyata kain songket juga dipenuhi dengan beragam lambang dan simbol. Dalam setiap kain songket dapat ditemukan warna, lambang, dan corak yang berbeda sehingga setiap helai kainnya mempunyai ciri dan penampilan yang unik, menarik dan penuh aura makna didalamnya. Berbeda motif dan corak kain songket, berbeda pula maknanya. Beberapa contoh motif /simbol yang bisa ditemukan pada kain songket dan maknanya antara lain:

A.Motif Bunga Mawar

Makna dan filsofi dari bunga mawar yang ditemukan pada motif kain songket memiliki makna menolak marabahaya. Kain songket yang memiliki gambar bunga mawar ini biasanya akan digunakan dalam upacara adat akikah/cukur rambut bayi. Adapun fungsi dari kain songket motif bungan mawar akan dipakai baik sebagai selimut maupun kain gendongan.
Adapun motif bunga mawar pada kain songket diharapkan bisa menjadi penolak bahaya bagi sang anak dan ia akan selalu berada dalam lindungan Tuhan. Harapan lain dari kain songket motif bunga mawar ini adalah sebagai lambang kekuatan dan ketangguhan bagi sang anak dalam menghadapi sebuah tantangan, cobaan, atau gangguan bagi diri sendiri untuk masa-masa yang akan datang.

B.Motif Bunga Tanjung

loading...
Makna dan filosofi dari kain songket motif bunga tanjung adalah adalah melambangkan keramahan seseorang sebagai tuan rumah. Motif kain songket ini sering dipakai oleh tuan rumah dalam acara pernikahan dan juga acara mendo’a. Selain itu, motif bunga tanjung juga bisa dipakai untuk menyimbolkan selamat datang kepada tamu. Maka dari itu, orang yang sedang menyambut tamu biasanya mengenakan kain songket dengan motif bunga tanjung.

Makna yang tersirat dari kain songket dengan motif bunga tanjung adalah tamu adalah ibarat raja sehingga tamu harus di perlakukan istimewa. Begitu mulianya seorang tamu yang datang kerumah/ke acara kita sehingga kita pun harus menyambut kedatangan mereka dengan dengan kain kebesaran yang bermotif bunga tanjung sebagai ucapan selamat datang dan terima kasih karena telah berkenan hadir dalam acara sang tuan rumah.

C.Motif Bunga Melati

Makna dan filosofi dari kain songket motif bunga yang indah ini adalah melambangkan sifat sopan santun, kesucian, dan keanggunan. Jenis kain songket denga motif ini biasanya sering di pakai oleh para puteri raja yang cantik jelita dan mempunyai status belum menikah.

Layaknya para gadis yang cantik jelita, penuh aura kelembutan dan keramahan maka motif songket bunga melati ini sekaligus mengundang pesona dari pemakainya. Senyum yang menawan diiringi dengan gaya busana yang penuh keanggunan maka motif songket bunga melati menjadi pilihan para artis di Indonesia.

Walaupun begitu, bagi para pemakainya juga harus sadar dan benar-benar memahami makna yang terkandung dalam motif songket tersebut. Pemakai kain tersebut juga harus menyadari bahwa apa yang dia pakai ada pesan moral yang mendalam di dalam motif tersebut.

D.Motif Pucuk Rebung

Makna dan filosofi songket dengan motif pucuk rebung ini melambangkan harapan yang baik di masa depan. Hal tersebut tidak terlepas dari filosofi pohon bambu itu sendiri sebagai  pohon yang sangat kokoh dan tidak mudah goyah oleh apa pun. Mayoritas kain songket memiliki motif pucuk rebung di bagian kepala. Harapannya, sang pemakai bisa selalu beruntung serta diiringi hal baik sepanjang hidupnya.

Semua makna dan filosofi tersebut merupakan sebuah pertanda dan sekaligus peringatan agar kita dapat selalu menjadi manusia yang baik dan tidak keluar dari jalur dan norma yang telah menjadi parameter hidup kita. Jauh lebih penting dari itu semua, tentu keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Tuhan yang Maha Kuasa adalah jauh lebih penting dari semuanya.


Sejarah Songket

Sahabat  yang budiman! Pada zaman dahulu kala songket merupakan kain yang selalu digunakan oleh kalangan istana dan para pejabat. Di Sumatera Selatan, tepatnya di kota  Palembang, kain songket merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya pada abad ke-9 Masehi. Kerajaan Sriwijaya yang hampir menguasai lebih dari setengah pulau Sumatera ini dijuluki dengan nama Swarnadwipa (Pulau Emas). Hal ini sangat erat kaitannya dengan banyaknya sumber emas yang cukup banyak di Sumatera Selatan, Jambi hingga Provinsi Riau. Emas pada saat itu sangat berperan penting dalam perdagangan jalur Sutera (jalur perdagangan lewat selat Malaka yang bermuara di kerajaan Sriwijaya.

Sahabat yang budiman! Ternyata,  tradisi membuat benang dari emas sudah dimulai sejak zaman kerajaan Sriwijaya dulu. Emas yang telah menjadi benang ini ditenun dengan jalinan benang sutra berwarna yang dihasilkan oleh masyarakat setempat. Selain itu, Palembang juga dikenal dengan pembudidayaan ternak ulat sutra untuk diambil benangnya. Sebagian kecil benang sutra yang digunakan berasal dari negara lain, yaitu dari India dan juga China!

Sekitar abad ke delapan belas beberapa kerajaan-kerajaan di Pulau Sumatera mengalami kemunduran dan mulai melemah. Hal ini terjadi karena adanya invasi Hindia Belanda ke Indonesia yang salah satunya adalah menguasai seluruh kerajaan di Indonesia, tak terkecuali kerajaan-kerajaan di Sumatera. Melemahnya kerajaan-kerajaan tadi memberi dampak pada kerajinan kain tenun songket sebagai alternatif dalam melangsungkan kehidupan dan menyambung hidup bagi masyarakat pada saat itu.

Sahabat yang budiman! Hingga perang dunia II pecah, bahan baku songket masih sangat susah didapatkan. Hal ini berdampak pada para pengrajin songket yang kekurangan bahan baku sehingga menyebabkan kain tenun songket ini sempat mengalami mati suri sampai tahun 1950.

Sahabat  yang budiman! Sebagian ahli sejarah juga menyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya memegang posisi perdagangan laut dan hegemoni perdagangan luar negeri. Tetapi, kemakmuran dan kesejahteraan kerajaan Sriwijaya itu sendiri sebenarnya sekitar abad ke delapan. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan kaya raya, sehingga emas sebagai logam mulia melimpah ruah. Sebagian emas itu kemudian dikirim ke Negara Siam yang diolah dan dijadikan benang emas untuk kemudian dikirim kembali ke Sriwijaya.

Dalam hubungannya dengan benang emas, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa benang emas merupakan benang yang diimpor atau didatangkan dari Kot Canton Cina bersamaan dengan didatangkannya benang sutera. Emas yang melimpah ruah ketika zaman kerajaan dulu tercermin dari penggunaan emas dalam tenunan kain songket dan arti emas dalam bentuk rumah adat limasan.

Sahabat  yang budiman! Pola dan gaya hidup masyarakat Palembang sebelum perang dunia II sebenarnya sudah sangat glamour. Membuat kain songket yang asli dengan benang emas murni yaitu emas 14 karat adalah kebiasaan mereka sebagai masyarakat yang tinggal di negeri yang kaya raya. Itu sebabnya ketika kain sutera yang merupakan bahan dasar kain songket menjadi lapuk, benang-benang emas ditarik dan ditenun kembali pada sutera yang baru.

Karena kualitasnya tersebut, tenunan songket asli disebut songket jantung atau songket cabutan. Warna pada kain songket mencerminkan status sosial dari si pemakai. Kain songket warna hijau, merah, kuning dipakai oleh janda, sedangkan warna yang cerah melambangkan bahwa mereka ingin menikah lagi. Warna merah dan emas terang sebagai motif yang menjadi ciri khas songket pada masa perkembangan awal adalah dua warna utama tradisi Cina.

Sahabat yang budiman! berdasarkan tinjauan semiotik, ternyata warna songket  mengandung dua makna. Merah bermakna berani, sedangkan kuning (emas) bermakna kekayaan, kejayaan dan kemakmuran. Penyimpanan kain songket sama bernilainya dengan menyimpan uang milik satu keluarga. Kita juga harus tahu bahwa, setiap lembar songket memiliki filsafat dan makna yang ingin disampaikan.

Selain bermakna keberanian dan kekayaan, kain songket juga memiliki nilai filosofis ketatanegaraan, politik, dan pertahanan tergambar lewat rangkaian motif yang terdapat di songket. Hingga kini, meski telah ada perubahan, baik akibat modifikasi maupun ketidaktahuan-rangkaian detail itu masih dipakai. Ibaratnya, 'kerangka' detail motif itu telah menjadi pakem pada songket. Secara garis besar, motif dalam songket terdiri atas kembang tengah sebagai motif inti yang dikelilingi ombak, umpak bongkot atau pangkal, tawur, pengapit, umpak ujang,dan tretes. Motif yang mengelilingi kembang tengah ini memiliki filosofi yang menunjukkan bagaimana sifat, kondisi, dan kebijakan negara dalam bidang tata negara, politik, dan pertahanan.

Sahabat yang budiman! sebenarnya alat tenun adalah hal yang paling utama karena terbuat dari kayu atau bambu dan alat penunjang yang mencakup alat penarik benang, pembuat motif, serta alat untuk memasukkan dan mengambil benang. Bahan untuk membuat songket yaitu benang katun, sutra, atau dari bahan lainnya yang mendukung keindahan kain songket. Dipercaya bahwa di masa lalu, benang dari emas sungguhan digunakan untuk membuat songket. Benang katun dilapisi dengan emas cair sehingga menghasilkan benang emas.

Hal lain yang harus menjadi pemahaman bersama adalah saat ini emas dan perak merupakan bahan yang mahal harganya. Hal ini sudah tidak memungkinkan lagi bagi para pengrajin songket untuk menggunakan emas sebagai campuran membuat kain songket. Alhasil, benang emas maupun perak imitasi lebih umum digunakan untuk kain songket yang kita gunakan saat ini.

Sahabat yang budiman! Sebagai tambahan pengetahuan kita, ternyata alat yang digunakan para pengrajin untuk membuat kain songket kebanyakan terdiri dari bambu dan kayu bernama panta.  pada umumnya, panta memiliki ukuran 2 x 1.5 meter dan terdiri dari beberapa bagian yaitu:

1.Gulungan (Gulungan adalah bagian yang dipakai untuk menggulung benang dasar dari baahan             sutera atau katun).

2.Sisia (Bagian ini digunakan untuk merentangkan benang serta memperolehnya).

3.Pancukia (Bagian ini berfungsi untuk membuat motif pada kain songket).

4.Turak (Pada alat ini, mesin pembuat songket (panta) diletakkan, lalu pada bagian depannya               diletakkan dua buah tiang yang berguna untuk menyangga kayu yang digunakan untuk menggulung  tenunan).

5.Kayu Paso (Kayu panjang ini digunakan untuk menggulung kain songket yang sudah jadi),

6.Palapah (Bagian ini berfungsi untuk merentangkan benang latar).

7.Ani (Bagian ini merupakan alat pelengkap, fungsinya untuk menggulung benang).

Sahabat  yang budiman! Teknik membuat kain songket secara umum bisa dijelaskan sebagai menjalin benang–benang dalam susunan yang membentuk pola indah. Ada empat jenis teknik benang pakan yang diterapkan dalam pembuatan kain songket. Setiap pengrajin biasanya menggunakan teknik andalan mereka masing-masing untuk menghasilkan kain dengan motif yang dikehendaki. Penganyaman songket dilakukan dalam dua tahap, yaitu menganyam kain dasar dengan pola yang tidak begitu rumit, lalu memasukkan unsur yang lebih dekoratif ke kain dasar tersebut.

Benang emas atau perak yang mengkilap dimasukkan dan dirangkai ke kain dasar menurut pola atau bentuk tertentu, sehingga menghasilkan efek mengkilap. Membuat kain songket secara tradisional merupakan pekerjaan paruh waktu kaum wanita yang dikerjakan di sela-sela kesibukan sehari-hari. Proses pembuatan kain songket yang lumayan rumit dipercaya bisa meningkatkan kualitas dalam diri seorang wanita, karena tentu saja kesabaran dan ketelitian akan terlatih.


Jenis-jenis Songket
1.Songket Lepus

Sahabat yang budiman! Lepus merupakan kata yang memiliki makna menutupi. Lepus  mencerminkan ciri khas dari jenis kain songket ini, yaitu warna emas yang menutupi hampir seluruh permukaan kain. Namun warna emas tersebut tak asal dibuat menutupi. Beberapa  jenis songket lepus, antara lain lepus lintang (motif bintang), songket lepus berantai dan songket lepus ulir.

loading...
2.Songket Tawur

 Sahabat  yang budiman! Tawur mempunyai arti menyebar atau bertaburan. Hal ini juga terlihat dari motif kainnya, yaitu adanya motif yang tidak menutupi keseluruhan permukaan kain, menyebar dalam kelompok-kelompok kecil. Benang pakan yang membentuk motif kain songket tawur ini juga tidak disusun dengan cara disisipkan dari pinggir ke pinggir kain. Beberapa jenis songket tawur adalah taur lintang, tawur tampak manggis dan tawur nampan perak.

3.Songket Tretes

Sahabat yang budiman! Kain songket jenis ini memiliki ciri khas tidak ditutupi motif pada bagian tengah. Bisa saja pada sebuah kain songket tretes, motif kain hanya ada di kedua ujung pangkal atau di bagian pinggiran. Pada jenis kain ini, bagian tengah dibiarkan polos tanpa motif apa pun.

4.Songket Bungo Pacik

Sahabat yang budiman! Kain songket bungo pacik memiliki ciri khas sebagian besar motif terbentuk dari benang katun putih sehingga warna – warna mencolok seperti emas dan perak tidak begitu kentara. Warna hiasan ini hanya digunakan sebagai motif selingan.

5.Songket Limar

Sahabat yang budiman! Perbedaan songket limar dengan songket lainnya adalah teknik pembuatannya. Dalam pembuatan songket pakan, digunakan corak ikat pakan. Motif khas dari kain songket jenis ini dihasilkan dari jalinan benang lungsi yang terlebih dahulu dicelupkan dalam pewarna pada bagian yang dikehendaki sebelum mulai menenun. Kain songket jenis limar ini biasanya dipakai sebagai kain sarung pria maupun perempuan. Jika sudah menjadi pakaian, kain songket ini disebut sewet. Pada umumnya, motif kain songket limar dikombinasikan dengan motif songket lain yang serasi untuk membuat pakaian.

6.Songket Kombinasi

Sahabat  yang budiman! Songket kombinasi adalah gabungan dari beberapa jenis motif kain songket. Sebagai contoh, ada songket bungo Cino yang mengandung unsur songket bungo pacik dan songket tawur. Ada juga songket bungo intan, yaitu perpaduan dari songket bungo pacik dan tretes. Selain jenis-jenis songket yang disebutkan di atas, masih banyak jenis songket lain. Umumnya songket dinamakan berdasarkan motif yang dominan, seperti songket bungo manggis, songket sorong, dan lainnya.

Perkembangan Songket

Sahabat yang budiman! Seiring dengan berjalannya waktu maka songket merupakan  salah satu bentuk seni rupa tradisional yang unik, sampai sekarang masih ditenun secara tradisional. Dahulu songket hanya boleh ditenun oleh perempuan, namun kini kaum lelaki pun turut menenun songket. Secara umum proses teknis pembuatan songket adalah merancang motif, menyiapkan benang, proses pewarnaan, menenun dan finishing. Sejak dulu hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan Melayu, Palembang, Minangkabau, Aceh dan Bali.

Kini dengan digunakannya benang emas sintetis, songket tidak lagi luar biasa mahal seperti saat menggunakan emas asli. Harga songket di masa sekarang pun lebih bervariasi. Namun songket kualitas terbaik tetap dihargai sebagai bentuk kesenian yang anggun, bernilai budaya tinggi, dan dihargai cukup mahal.

Sahabat yang budiman! Ternyata, di tengah kemajuan industri tekstil sekarang ini, dengan mesin-mesin tenun modern nan canggih, kerajinan songket masih terus hidup. Pengrajin songket kini berusaha menciptakan motif-motif baru yang lebih modern dengan pilihan warna yang lebih banyak. Hal ini sebagai upaya agar songket senantiasa mengikuti zaman dan digemari oleh masyarakat luas. Sebagai warisan yang sarat makna dan nilai kearifan serta memiliki nilai ekonomi, sudah selayaknya songket terus dikembangkan dan dilestarikan.

Sahabat yang budiman! Kain Songket – Songket adalah jenis kain yang masih termasuk golongan brokat. Kain ini ada di mayoritas negara – negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand Selatan. Songket dibuat menggunakan tangan dengan bahan sutera atau katun, lalu diberi motif dengan benang perak atau emas.

Benang – benang yang berkilau itu menonjol dibandingkan dengan warna benang lainnya, sehingga memberikan efek yang indah. Dalam proses penganyaman, benang metalik disisipkan di antara benang warna dasar. Teknik ini disebut benang pakan.
Sejarah Kain Songket

Sahabat yang budiman! Meskipun benang emas pernah ditemukan terkubur di antara peninggalan kerajaan Sriwijaya bersamaan dengan batu rubi dan piringan emas, tidak ada bukti para pengrajin kain songket menggunakan benang emas sejak abad 7 hingga 8. Kemungkinan besar, songket berkembang setelah zaman itu. Lain dengan di atas, menurut tradisi Kelantan, penganyaman songket datang dari Utara di daerah Kamboja – Siam lalu meluas hingga ke Pattani, dan akhirnya mencapai Kelantan dan Terengganu pada abad ke-16. Produksi songket berlanjut sampai ke pinggiran Kota Bharu dan Terengganu.

Sahabat  yang budiman! Pengrajin yang berada di Terengganu percaya bahwa teknik pembuatan songket diperkenalkan ke Malaysia lewat India melalui Palembang dan Jambi. Asal usul kain songket memang tidak jelas, namun kemungkinan besar pembuatan songket masuk ke Malaysia lewat penggabungan antar keluarga kerajaan. Ini adalah kejadian yang umum pada abad ke-15 untuk menyusun strategi kekuasaan. Produksi kain songket mungkin diletakkan di kerajaan yang kuat secara politik karena mahalnya biaya.

Sahabat yang budiman! Secara tradisional, songket merupakan kain yang mewah, sangat indah, dan hanya digunakan untuk acara – acara tertentu seperti festival religius dan perayaan khusus lainnya. Songket telah menjadi garmen yang wajib digunakan pengantin pria maupun wanita dalam acara pernikahan, serta merupakan bagian penting dari pakaian adat Palembang, Minangkabau, dan Bali.


loading...

Post a Comment

8 Comments