loading...

Makna dan Filosopi Tanjak


Sahabat yang budiman! Tanjak adalah sebuah kehormatan yang patut dijaga karena bertaut marwah dan harga diri. Tanjak adalah sebuah amanah. Tanjak adalah sebuah kekuatan. Tanjak adalah sebuah kehormatan. Dan tanjak adalah sebuah tameng dalam menyisir debu dan ranting pepohonan. Tanjak adalah sebuah makna dalam bingkai peradaban,  karena tanjak sesungguhnya akan selalu menganjur keatas dan berkata bijak. Bak pepatah “Sekali bernama destar, Duanya bernama tanjak. Yang diujung kepala, Dipakai berpatut patut. Yang beradat lembaga, Yang beradat berketurunan, Yang dijaga dipelihara, Yang Bertempat dan bertepatan, Yang ada asal usulnya”.

loading...
Sahabat yang budiman! Sementara pepatah lain menyebut “Cerdik penghubung lidah berani pelapis dada. Yang didahulukan selangkah, yang ditinggikan seranting, yang dilebihkan serambut yang dimulaikan sekuku”. Begitulah sebenarnya seorang pemimpin yang ideal bagi masyarakat. Ketika tanjak telah di tabalkan berarti kewajiban dan tanggung jawab besar sudah menunggu dirinya. Sesungguhnya pemimpin bijak adalah pemimpin yang selalu menjaga janji dan memegang teguh amanah. Pemimpin juga harus bijak dan dapat dipercaya. Pemimpin tidak boleh ingkar janji terhadap janji yang pernah diucapkannya. Pemimpin juga akan selalu menjaga marwah diri, keluarga dan marwah seluruh rakyatnya. Begitulah sebenarnya hakekat tanjak yang sesungguhnya. Tanjak bukan hanya sebuah hiasan kepala untuk sekedar melestarikan budaya, tetapi tanjak membawa pesan moral yang luar biasa bagi siapapun yang memakainya.Karena dalam tanjak ada nasehat dan anjuran supaya orang dapat memanfaatkan segala kemampuannya sesuai pengetahuan yang dimilikinya untuk kepentingan diri dan masyarakat. 

Sahabat yang budiman! Pemimpin adalah orang  yang diberi kelebihan untuk mengurusi kepentingan orang banyak.  Pepatah tersebut secara eksplisit menjelaskan bahwa seorang raja haruslah sosok manusia yang dapat dijangkau oleh rakyat biasa. Penguasa harus berada di tengah-tengah rakyatnya, mengerti kondisi warganya, dan tahu apa yang diinginkan oleh mereka. Raja bukanlah dewa yang tak tersentuh oleh manusia, melainkan sosok yang hanya diberi beberapa kelebihan seperti di atas. Jadi, eksistensi suatu negara ditentukan oleh tiga hal penting yaitu pemimpin, rakyat dan wilayah. Pada masa lampau kerajaan-kerajaan juga mensyaratkan adanya pemimpin atau raja. Oleh sebab itu keberadaan raja adalah sebuah keniscayaan. “Raja itu umpama akar, dan rakyat adalah pohon. Jikalau tidak ada akar, maka pohon tidak dapat berdiri”. Sebuah ungkapan mengenai pentingnya seorang pemimpin.  

Sahabat yang budiman! Dalam tradisi orang Melayu, para pemimpin itu adalah manusia-manusia yang lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu tentang banyak hal. Bahkan di masa lalu, seorang pemimpin bangsa Melayu juga haruslah sosok yang sakti mandraguna demi melindungi wilayah dan rakyatnya dari ganguan binatang buas, penjahat, penjajah dan makhluk halus seperti jin, siluman, setan, dan lain-lain. Karena itulah, para pemimpin yang sejati juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu komunitas orang Melayu menjadi penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai bersama. Untuk itu, salah satu sumbangan terbesar dari kebudayaan Melayu adalah turut mewujudkan dan membentuk jati diri dan identitas bangsa Indonesia. Dan tak berlebihan apabila akhirnya kebudayaan Melayu disebut sebagai akar dari jati diri bangsa ini. Pengaruh Melayu bagi bangsa Indonesia pada umumnya meliputi banyak hal, di antaranya adalah khazanah dalam budaya politiknya. Petuah lama   berkata bahwa pemimpin harus mempunyai watak yang tertulis dalam bentuk untaian syair berikut :

1. Sebagai pemimpin banyak tahunya.
“ Tahu duduk pada tempatnya, Tahu tegak pada layaknya, Tahu kata yang berpangkal, Tahu kata yang berpokok”
Seorang pemimpin yang baik haruslah mempunyai banyak pengetahuan. Penguasa harus mengetahui bagaimana ia harus bersikap, bagaimana ia harus berfikir, bagaimana kondisi rakyatnya, dan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penguasa dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada sekaligus mencegah munculnya permasalahan yang baru. Tanpa pengetahuan yang memadai, sang penguasa akan kesulitan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada. Pengetahuan mutlak diperlukan seorang pemimpin untuk menunjang pelaksanaan tugas-tugasnya. Pemerintahan hampir dapat dipastikan berjalan lancar apabila seorang raja mengetahui apa yang baik untuk rakyatnya dan apa yang harus dihindari karena tidak baik untuk rakyatnya. Penguasa akan mudah dalam memimpin apabila ia tahu apa yang harus dikerjakan dan apa yang tak boleh dilakukan. Tanpa pengetahuan, seorang pemimpin tak akan memiliki visi yang besar. Kalaupun ia memiliki visi besar, pastilah ia akan kesulitan merealisasikannya.

2. Sebagai pemimpin banyak arifnya
“ Di dalam tinggi ia rendah, Di dalam rendah ia tinggi, Pada jauh ianya dekat, Pada yang dekat ianya jauh”
Dalam tradisi Melayu terdapat pengertian yang berbeda antara arif dan bijaksana. Arif lebih merujuk kepada kemampuan pembawaan diri dalam proses sosialisasi, sedangkan bijaksana lebih mengarah kepada pengolahan pengetahuan dengan sebaik-baiknya. Karena itu, dalam tradisi Melayu seorang raja atau pemimpin baru akan lebih dihormati apabila ia memiki kearifan dalam bertindak. Kearifan yang dimiliki pemimpin akan menambah rasa kepercayaan rakyat bahwa ia memang benar-benar figur yang cocok untuk memimpin.

3. Sebagai pemimpin banyak bijaknya
“Bijak menyukat sama papat, Bijak mengukur sama panjang, Bijak menimbang sama berat, Bijak memberi kata putus”
Kebijaksanaan adalah sifat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Oleh karena itu, tradisi Melayu selalu memposisikan sifat bijak sebagai salah satu sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang raja atau penguasa. Kebijaksanaan sangat erat kaitannya dengan ketepatan dalam mengambil keputusan. Dengan demikian, akhirnya kebijaksanaan tersebut akan bermuara pada baik atau buruknya pemerintahan yang sedang berlangsung. Tanpa kebijaksanaan, pemimpin akan mudah sekali terjerumus dalam tindakan dan keputusan yang sewenang-wenang.

4. Sebagai pemimpin banyak cerdiknya
“ Cerdiknya mengurung dengan lidah, Cerdik mengikat dengan adat, Cerdik menyimak dengan syarak,Cerdik berunding sama sebanding, Cerdik mufakat sama setingkat, Cerdik mengalah tidak kalah, Cerdik berlapang dalam sempit, Cerdik berlayar dalam perahu bocor, Cerdik duduk tidak suntuk, Cerdik tegak tidak bersundak”

Selain memiliki pengetahuan yang cukup, seorang pemimpin harus mencerminkan diri sebagai orang yang cerdik. Kecerdikan disini dapat diartikan sebagai proses pengolahan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai keputusan yang paling tepat dalam menangani masalah. Sebagai seorang pemimpin, ia pasti berkutat dengan permasalahan-permasalahan yang kompleks. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah kecerdikan untuk menghasilkan solusi yang tepat. Tanpa kecerdikan, seorang pemimpin akan rentan menghasilkan kebijakan yang tidak efekif. Kebijakan yang salah atau tidak efektif tentu akan berpengaruh pada berhasil atau tidaknya suatu pemerintahan. Inilah yang menjadi alasan mengapa kecerdikan diperlukan dalam proses memimpin.

5. Sebagai pemimpin banyak pandainya
“ Pandai membaca tanda alamat, Pandai mengunut mengikuti jejak, Pandai menyimpan tidak berbau, Pandai mengunci dengan budi” 
Pengetahuan dan kecerdikan tidaklah lengkap apabila tidak dilengkapi dengan sifat pandai. Kepandaian dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai kemampuan analisis yang baik terhadap masalah-masalah yang ada. Dengan ditunjang adanya pengetahuan yang cukup, ditambah dengan kepandaian dalam analisis, maka pemimpin harus cerdik dalam mengambil setiap keputusan. Analisis adalah bagian terpenting dalam usaha penyelesaian masalah. Oleh karena itu, kemampuan analisis yang baik sangat dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang baik. Pepatah lama mengatakan: “Bagi yang pandai, mana yang kusut akan selesai; orang yang pandai pantang memandai-mandai”. Tampak sekali bahwa kepandaian sangat berperan besar dalam mengurai “benang kusut”. Tanpa kepandaian, benang kusut tersebut takkan pernah selesai untuk diurai, kalaupun dapat di lakukan pastinya akan memakan waktu yang lama.

6. Sebagai pemimpin mulia budinya
“ Berkuasa tidak memaksa, Berpengetahuan tidak membodohkan, Berpangkat tidak menghambat”
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan perbuatan yang licik dan sewenang-wenang. Pemimpin adalah seseorang yang ditunjuk untuk melayani kepentingan masyarakat, bukan seseorang yang minta dilayani atau hanya diberi kekuasaan untuk memuaskan ambisi pribadinya. Oleh karena itu, bagi orang Melayu, sifat sewenang-wenang dalam memerintah pantang untuk dilakukan.

loading...
7. Sebagai pemimpin banyak relanya
“ Rela berkorban membela kawan, Rela dipapak membela yang hak, Rela mati membalas budi, Rela melangas karena tugas, Rela berbagi untung rugi, Rela beralah dalam menang, Rela berpenat menegakkan adat, Rela terkebat membela adat, Rela binasa membela bangsa”
loading...
Pemimpin adalah seorang yang harus membela kepentingan rakyatnya. Ia harus rela dalam banyak hal demi terpenuhinya kepentingan warganya. Pepatan di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus rela sengsara demi membela hak, ia harus rela membela kawan meski harus berkorban. Ia juga harus rela dalam kesulitan ketika rakyatnya kesulitan, mengusahakan kebahagiaan untuk rakyatnya saat ia bahagia. Jiwa patriotisme juga ditanamkan di sini, karena bela negara memang sangat dianjurkan alias wajib. Bahkan, seorang pemimpin harus rela mati demi membela bangsanya, serta rela berpenat dan terkebat dalam membela adatnya. Bagaimanapun seorang pemimpin memang difungsikan sebagai orang yang bersedia berkorban demi orang banyak.

8. Sebagai pemimpin banyak ikhlasnya
“Ikhlas menolong tak harap sanjung, Ikhlas berbudi tak harap puji, Ikhlas berkorban tak harap imbalan, Ikhlas bekerja tak harap upah, Ikhlas memberi tak harap ganti, Ikhlas mengajar tak harap ganjar, Ikhlas memerintah tak harap sembah” 
Terminologi rela memiliki pengertian yang berbeda dengan ikhlas. Bila rela adalah sebuah bentuk siap untuk berkorban, maka ikhlas lebih mengarah kepada pengelolaan niat. Hal ini sangat jelas disuarakan dalam pepatah lama: “Kalau pemimpin tidak ikhlas, banyaklah niat yang akan terkandas”. Artinya, keikhlasan seorang pemimpin dalam bertindak akan sangat mempengaruhi output dari proses pelaksanaan niat tersebut. Apabila seorang pemimpin tidak ikhlas, maka niat-niat baik yang ada tentunya akan hilang. Ini bahkan bisa menimbulkan musibah dan bencana bagi rakyat yang sedang ia pimpin.

9. Sebagai pemimpin banyak tahannya
“Tahan berhujan mau berpanas, Tahan bersusah berpenat lelah, Tahan berlenjin tak kering kain, Tahan berteruk sepepak teluk”
Penggalan syair di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki mental “bertahan” yang baik. Ketabahan dan kesabaran menjadi salah satu sifat dari pemimpin ideal untuk menjamin tetap terjaganya komitmen dari sang pemimpin. Selain itu, sikap tawakkal (berserah diri) juga dianjurkan di sini. Tawakkal berarti pasrah, namun bukan berarti menyerah pada masalah. Kepasrahan tersebut dilakukan setelah melakukan usaha yang maksimal. Dengan kata lain, orang Melayu memaknai terminologi tawakkal sebagai penyerahan hasil kepada Tuhan dari usaha yang dilakukan manusia. Kritik-kritik tajam dan keluhan-keluhan akan banyak ditemui oleh seorang pemimpin. Terlebih apabila kekuasaannya memiliki oposan yang cukup kuat. Kritik tajam akan sangat tidak tepat apabila direspon dengan sikap arogan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah ketahanan untuk menerima semua itu dan memikirkannya secara mendalam. Pemimpin yang buruk biasanya akan marah apabila dikritik. Ia akan mencari seribu dalih untuk mengelak dari kritik tersebut. Bahkan, terkadang kritik-kritik tersebut ditanggapi dengan emosi. Lebih buruk lagi apabila kritik itu justru dianggap sebagai fitnah untuk menjatuhkannya. Pemimpin yang baik tidak melakukan semua itu. Ia akan menerima kritik dengan lapang dada dan menghargainya sebagai sebuah nasihat dan bahan intropeksi diri.

10. Sebagai pemimpin banyak taatnya
“ Taat dan takwa kepada Allah, Taat kepada janji dan sumpah, Taat memegang petua amanah, Taat memegang suruh dan teguh, Taat kepada putusan musyawarah, Taat memelihara tuah dan meruah, Taat membela negeri dan rakyatnya”
Ketaatan bukan hanya sebagai kewajiban yang dimiliki oleh rakyat terhadap pemimpinnya, melainkan juga dimiliki oleh seorang pemimpin itu sendiri. Budaya politik Melayu menekankan pentingnya hubungan timbal balik yang baik antara pemimpin dan yang dipimpin. Rakyat wajib menaati pemimpin, begitu pula sebaliknya. Raja harus menaati suara rakyat. Ia tak boleh mengabaikan aspirasi warganya, terlebih apabila suara itu adalah keputusan musyawarah. Ia harus taat pada kewajibannya untuk membela negara dan rakyatnya. Selain itu, yang paling penting juga adalah bahwa ia harus taat pada Tuhan, karena bagaimanapun ia adalah hamba Tuhan di muka bumi.

11. Sebagai pemimpin mulia duduknya
“Duduk mufakat menjunjung adat, Duduk bersama berlapang dada,Duduk berkawan tak tenggang rasa”
 Sikap dan sifat yang baik harus menjadi identitas seorang pemimpin. Kelakuan sehari-hari sang pemimpin mampu mencerminkan kepribadian yang baik. Inilah yang dimaksud dengan syair di atas, bahwa seorang raja harus memiliki tingkah laku yang baik sehingga tidak kehilangan kewibawaannya. Ia harus bersama-sama rakyat untuk menjunjung adat tanpa adanya perbedaan kewajiban. Kedudukannya sebagai pemimpin tak mengurangi sedikit pun untuk selalu menjunjung adatnya. Ia juga harus sering duduk bersama rakyatnya, dengan segala kebesaran hatinya mau menghilangkan kesombongan dan bersedia mendengarkan keluh kesah dari rakyatnya, sehingga akhirnya mampu bertenggang rasa. Kewibawaan akhirnya menjadi penilaian apakah ia seorang pemimpin yang baik atau buruk.

12. Sebagai pemimpin banyak sadarnya
“Memimpin sedar yang ia pimpin, Mengajar sedar yang ia ajar, Memerintah sedar yang ia perintah, Menyuruh sedar yang ia suruh”
Berdasarkan fenomena di banyak negara dan kerajaan, seorang pemimpin kerap menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang. Kesewenang-wenangan disini tak hanya merujuk pada perbuatan yang menjurus pada pelampiasan ambisi pribadi, melainkan kesalahan dalam mengambil keputusan yang akhirnya menyusahkan rakyatnya. Banyak pemimpin yang tak mampu membaca situasi dan tak mengerti keadaan yang pasti, akhirnya terjerumus dalam persoalan yang lebih parah. Maka dari itu, seorang pemimpin harus benar-benar sadar apa yang ia lakukan, sadar tentang alasan dalam melakukannya, dan yang paling penting adalah sadar akan akibatnya. 

13. Sebagai pemimpin banyak tidaknya
“Merendah tidak membuang meruah, Meninggi tidak membuang budi,Sayang tidak akan membinasakan, Kasih tidak merusakkan, Baik tidak mencelakakan, Elok tidak membutakan, Buruk tidak memuakkan, Jauh tidak melupakan, Dekat tidak bersinggungan, Petua tidak menyesatkan, Amanah tidak mengelirukan”

Berbagai pantangan harus dihindari demi sempurnanya pelaksanaan suatu kewajiban. Seorang pemimpin haruslah selalu memegang teguh kebaikan dan menghindari keburukan yang dapat merugikan rakyatnya. Pepatah lama mengatakan: “Sifat elok sama dipegang, sifat buruk sama dipantang. Elok dipegang, buruk dibuang.” Itu artinya seorang pemimpin haruslah hanya berpegang pada sifat-sifat yang baik dan benar saja dan harus membuang jauh-jauh sifat-sifat yang buruk. Raja sebagai “bayang-bayang” Tuhan di muka bumi ini haruslah mencerminkan sifat-sifat ketuhanan itu sendiri. Dalam konteks Melayu Muda, maka yang kental dengan nuansa Islam, Asmaul Husna harus menjadi pegangan dalam bertindak.

Kriteria seseorang untuk bisa dikatakan sebagai pemimpin ideal dalam tradisi dan budaya Melayu setidaknya telah tertulis sejak ratusan tahun lalu. Dan raja-raja Melayu di masa lalu banyak mencerminkan sifat-sifat tersebut. Namun, apabila melihat kondisi kekinian, para pemimpin negeri ini justru memperlihatkan sifat-sifat yang sebaliknya. Pantas saja bila akhirnya bangsa ini makin terpuruk. Kondisi Indonesia kini sungguh tak mencerminkan kebesarannya dimasa lalu sebagai sebuah bangsa yang besar dan sangat disegani oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia. Budi pekerti dan moralitas harus dijunjung tinggi oleh penguasa yang sedang memimpin. Banyaknya kebobrokan politik dan ekonomi di dunia khususnya Indonesia disebabkan karena rendahnya moralitas yang dimiliki oleh para pemimpinnya. Bahkan dalam kancah perpolitikannya, etika dan kejujuran dalam berperilaku sehari-hari sudah tidak penting, bahkan tidak ada. Alhasil, banyak kerugian yang dialami oleh berbagai pihak; sedangkan keuntungan yang sifatnya sementara hanya dialami oleh sebagian kecilnya saja. Banyak pemimpin yang berkuasa tetapi sesungguhnya tidak memimpin. Sebab, memimpin berarti memberikan arah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan keamanan yang jelas secara mandiri.

Selain itu, Tunjuk Ajar Malayu menunjukkan pula bahwa  sifat berani yang dijunjung tinggi dan dihormati adalah berani karena benar, berani pada yang hak, berani menegakkan keadilan, berani menghapus arang dikening, berani dijalan Allah, dan sebagainya, yang bersifat menuju dan mengacu pada kebaikan. Orang tua-tua mengingatkan pula supaya tidak "Berani Babi" atau berani membabi buta dan melarang berani membela yang buruk, berani melanggar agama, berani melanggar adat, dan sebagainya. Keberanian sangat diperlukan dalam kehidupan manusia, terutama untuk menegakkan keadilan, untuk membela kebenaran, dan untuk memperjuangkan keperluan hidup, berusaha mencari nafkah, membela bangsa dan negara, dan sebagainya. Orang tua-tua mengatakan,"Adat lelaki berani mati, adat perempuan memelihara kehormatan". Filosopi pemimpin juga sebenarnya telah ada dalam Tunjuk Ajar Melayu berikut ini: 

Apa tanda Melayu jati
Dijalan Allah berani mati
Menegakkan keadilan berani mati
Membela yang hak lupakan mati
Menebus malu tak ingat mati
Membela negeri sampai kemati
Pada yang benar tempatnya mati

Apa tanda melayu terbilang 
Dijalan Allah mati dan hilang
Membela yang hak nyawa melayang
Membela yang benar jiwa melayang

Apa tanda Melayu bermarwah
Membela bangsa menyabung nyawa
Berani mati memenuhi sumpah
Membela yang patut pantang menyerah

Apa tanda Melayu jantan
Hidup matinya diatas kebenaran
Hidup matinya membela kebenaran
Berani mati dijalan Tuhan

Apa tanda Melayu bertuah
Berani mati memegang amanah
Berani mati menegakkan sunnah
Berani mati membela marwah

Apa tanda Melayu terpuji
Membela yang hak berpantang lari
Pada yang benar ia berani
Apa tanda Melayu berani
Hatinya tidak berbelah bagi

Musuh datang ia  mananti
Mengelakkan musuh pantang sekali
Dari pada aib biarlah mati
 Apa tanda Melayu terpandang
Pantang sekali berbalik kebelakang
Berani memikul beban dan hutang

Apa tanda Melayu handal
Membela yang hak tahan dipenggal
Apa tanda Melayu beradat
Berani memikul sebab akibat
Membela yang hak tahan dikerat
Beraninya tidak dapat disukat

Apa tanda Melayu berbangsa
Berani tidak memilih asa  
Apa tanda Melayu pilihan
Berani melangkah berani berjalan
Berani berbuat berani menahan
Berani berhutang berani dilendan

Sahabat yang budiman! Semoga para pemimpin saat ini dan calon pemimpin yang akan datang akan selalu berprinsip bahwa tanjak bukan sekedar perhiasan dikepala, melainkan tanjak adalah sebuah amanah yang harus dijaga dan dipelihara sesuai dengan Tunjuk Ajar Melayu yang telah tersusun menjadi sebuah renungan mendalam bagi para pemimpin dan calon pemimpin. Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Effendy Tenas, Pemimpin dalam Ungkapan Melayu, (Michigan, Dewan Bahasa dan Pustaka, 2000)
https://www.daengnatuna.com/category/budaya-melayu/ Daeng Ayub Natuna, Malay Cultural Arts, 26 November 2017
http://jantungmelayu.com/2017/03/pakailah-tanjak-pada-tempatnya/ Nugraha S.Yoan, Pakailah Tanjak pada Tempatnya, (Redaksi Jantung Melayu, 2017)
http://mimbarkata.blogspot.co.id/2013/08/jejak-dan-warisan-tanjak-melayu.html
https://kbbi.web.id/tanjak

loading...

Post a Comment

18 Comments

  1. Replies
    1. terima kasih...dan semoga para sahabat laman24.com selalu sukses

      Delete
  2. terima kasih jadi lebih mengerti akan makna tanjak yang sebenarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kembali...Mudah2an SMAN Plus Provinsi Riau tetap menjadi idola bagi semua generasi milenial

      Delete
  3. Izin copas gan...ada tugas kuliah .
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. silahkan gan kalau merasa tulisan ini bermanfaat

      Delete
  4. Asyik bacanya...tanjak salah satu budaya yang harus dilestarikan...
    Bangga memakai tanjak

    ReplyDelete
  5. copas ya gan..butuh banget nie

    ReplyDelete
  6. luar biasa tulisan tentang makna dan filosofi tanjak ini

    ReplyDelete