Filosofi Garam


Sahabat  yang budiman! Garam sebagai salah satu kebutuhan pokok orang Indonesia ternyata mempunyai filosofi yang luar biasa untuk kehidupan manusia. Garam bukan sekedar pelengkap cita rasa yang luar biasa, tetapi garam kadang-kadang selalu menjadi penentu terciptanya resep, menu dan cita rasa kuliner nusantara. 

Sepintas lalu, rasa asin menjadi konotasi yang tidak berpihak pada garam. Asin adalah sebuah rasa yang tidak populer dalam sebuah cita rasa. Apalagi kalau rasa asin di lidah terasa berlebihan, cita rasa kuliner pun dapat kacau dibuatnya. Jadi kadar garam harus sangat diperhitungkan dan tidak boleh berlebihan agar menghasilkan citra rasa yang luar biasa.

Sahabat  yang budiman! Selain deskripsi pentingnya peran garam dalam resep makanan yang menghasilkan cita rasa luar biasa. Ternyata garam juga dijadikan konotasi, kiasan, perumpaan bahkan pepatah. Pepatah-pepatah tersebut adalah sebagai berikut:

1.Bagai garam jatuh ke air.  (Nasihat dan sebagainya yang mudah diterima)

2.Banyak makan (asam) garam. ( Banyak sudah pengalaman hidup yang dijalani)

3.Banyak menelan garam hidup. ( Sudah terlalu banyak tentang susah senangnya hidup)

4.Garam di laut, asam di gunung bertemu juga dalam belanga (Kalau jodoh bertemu juga akhirnya)

5.Garam kami tak masin padanya (Perkataan yang tidak pernah di indahkan)

6.Bagai membuang garam ke laut ( Melakukan suatu pekerjaan yang tidak ada gunanya)

Makna pepatah garam tersebut tentu tidak lepas dari pentingnya peran garam dalam kehidupan manusia. Di lihat dari harganya, garam memang murah meriah. Tetapi apabila garam ditinggalkan dalam membuat sebuah resep makanan, maka makanan yang berkualitas tinggi pun akan menjadi rendah, bahkan rendah dari harga segenggam garam.

Garam bukan saja akan membuat lezat sebuah makanan tetapi juga akan menambah value (nilai) dari sebuah rasa yang akan menjadi cita rasa yang paripurna dan dirindukan semua orang. Garam akan menjadi benda yang dirindukan dan dinantikan ketika sebuah makanan terasa hampar dan tidak di beri garam.

Sahabat Hidup manusia juga seperti rasa sebutir garam. Apabila sebutir garam tersebut dimanfaatkan dan dicampur dengan bumbu masakan lain, maka garam akan berperan penting dalam melezatkan sebuah makanan yang dirindukan banyak orang.

Beberapa filosofi garam adalah sebagai berikut.

1.Jangan sombong karena kelebihan yang kita miliki.

Sebuah resep makanan yang lengkap dan komplit tetap akan di lengkapi dengan garam. Sebanyak dan semahal apapun bumbu dan rempah-rempah dari sebuah menu tidak akan pernah lengkap tanpa ada garamnya.

Begitulah hidup manusia yang tetap akan saling membutuhkan satu sama lain. Walaupun kita dalam posisi serba ada dan kaya raya, kita akan tetap membutuhkan orang lain untuk membantu kita. Semua yang kita miliki adalah titipan dari Tuhan yang harus kita jaga.

Suatu saat Tuhan pasti akan mengambilnya kembali termasuk diri kita yang tidak akan pernah kekal untuk hidup di dunia ini. Jadi sudah saatnya instropeksi diri agar lebih baik dari hari ke hari.

2. Jangan pernah meremehkan orang lain.

Resep dan menu lezat tetap akan membutuhkan garam. Berbagai jenis resep makanan yang akan diolah menjadi menu makanan yang lezat tetap akan ditambah garam dengan garam, walaupun sedikit. Begitulah pentingnya peran garam dalam menghasilkan makanan yang lezat di lidah. Jadi garam tidak boleh diremehkan.

Begitu juga hidup manusia yang saling membutuhkan. Yang kaya tetap akan membutuhkan yang miskin. Yang besar tetap akan membutuhkan yang kecil. Yang kuat tetap akan membutuhkan yang lemah.Menu lezat Sebuah resep makanan yang lengkap dan komplit tetap akan di lengkapi dengan garam.

3. Selalu rendah hati walaupun kita adalah kunci sukses orang lain.

Walaupun garam adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam menghasilkan cita rasa kuliner yang luar biasa. Garam tetap akan rendah diri dan selalu siap dicampur dengan bumbu dan rempah-rempah lainnya.

Garam tidak pernah mengeluh karena hanya menjadi bagian kecil dari sebuah menu makanan. Garam sangat menyadari bahwa walaupun mempunyai peran kecil dalam menghasilkan sebuah makanan lezat, tetapi garam sangat menyadari tanpa dirinya makanan lezat tidak akan pernah tercipta.

Garam juga tidak sombong dan takabur karena menjadi penentu cita rasa yang luar biasa. Begitu pula hidup manusia, walaupun orang lain membutuhkan kita dan kadang-kadang kita menjadi faktor penentu keberhasilan orang lain, kita tetap harus rendah hati dan jauh dari sifat sombong dan ringan tangan untuk selalu menolong orang lain.

4. Siap bersatu dengan semua orang untuk mencapai sebuah tujuan mulia.

Sebagai pelengkap sebuah resep dan menu makanan, garam tetap menunjukkan sifat kebersamaan. Garam tetap rela menjadi bagian kecil untuk menyempurnakan sebuah resep dan menu makanan.

Ketika kita sudah mengetahui bahwa kunci sukses orang lain adalah diri kita, segeralah bergegas untuk membantunya dan jangan menundanya. Jangan terlalu sombong dan tetap membantu orang lain untuk sukses.

Sahabat yang budiman! Demikian filosofi garam yang ternyata sangat luar biasa. Mudah-mudahan menjadi inspirasi buat kita semua untuk selalu memperbaiki diri demi hidup yang nyaman dan bahagia.

Salam inspirasi dari laman24.com!

Post a Comment

6 Comments