loading...

Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi buku Love, Life, Heaven (Elisa Herman)


Sahabat  yang budiman! Sebelum kita membahas dan mengkaji buku Love, Life dan Heaven yang ditulis oleh Elisa Herman, ada baiknya kita memahami dulu tentang ontologi, epsitemologi dan aksiologi terlebih dahulu.

Sahabat  yang budiman! Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Beberapa Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yaitu, Thales, Plato, dan Aristoteles.

Sedangkan pengertian epistemologi berasal dari bahasa yunani yaitu episteme yang artinya  pengetahuan dan logos artinya kata, pikiran, dan tentang ilmu pengetahuan. Jadi bisa di simpulkan bahwa epistimologi berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Mulai dari sifat serta dasar-dasar pengetahuannya.

Sahabat yang budiman! Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartika aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.

A.Ontologi Buku Love, Life , Heaven

Sahabat yang budiman! Love, life, heaven adalah sebuah kisah nyata dari penulis Elisa Herman yang berprofesi sebagai perawat. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menolong seseorang yang takut, galau, gelisah dan belum siap dalam menyambut kematiannya dengan cara-cara luar biasa tetapi tidak pernah kita lakukan karena ketidak tahuan kita pada kebutuhan seseorang yang sedang menghadapi detik-detik kematian.

Penulis memadukan apa yang seharusnya kita lakukan semasa kita masih hidup didunia, dan bagaimana seharusnya kita mempersiapkan kematian yang merupakan konsekuensi logis dan  pasti akan dialami oleh manusia. Pengetahuan dan pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini tidaklah abadi adalah sesuatu yang mudah untuk di kaji dan dianalisis tetapi sangat sulit untuk di implementasikan.

Betapa penulis sadar bahwa pengalaman ibu kandungnya ketika maut menjemput ibu kandungnya dan penulis tidak mengetahui yang dibutuhkan oleh ibunya (karena memang waktu itu penulis baru berumur 13 tahun) menjadi titik pemicu untuk berbuat lebih banyak kepada orang lain dan semangat untuk berbagi pengalaman kepada orang lain.

Bukan hanya pertolongan medis dan obat yang diperlukan oleh seseorang yang sedang sakit, tetapi dorongan semangat spiritual dan sosial sangat di butuhkan oleh mereka semua. Penulis menyadari sepenuhnya ketika penulis tidak dapat berbuat apa-apa pada saat ajal menjemput ibu kandungnya. Rasa bersalah dan sadar tentang peristiwa tersebutlah yang menjadikan penulis mau berbagi dan menulis kisah dan pengalaman hidupnya.

Segala sesuatu yang ada didunia ini tidak akan pernah abadi. Kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak dapat dielakkan bagi siapapun. Betapa penulis merasa menyesal ketika tidak dapat memberikan segala sesuatu yang terbaik yang dibutuhkan oleh ibu kandungnya ketika ajal menjemput.

Perpaduan sebuah kehidupan yang nyata dari sisi materi dan harta kekayaan dengan kejadian yang dialami seseorang dalam menghadapi sebuah kematian sangatlah berbeda. Seseorang dalam menyambut kematiannya tidak membutuhkan harta dan materi yang menjadi pundi-pundi kekayaan selama hidup didunia tetapi seseorang dalam menyambut kematiannya membutuhkan orang lain disampingnya untuk berbagi cerita tentang kilas balik kehidupannya didunia dan kehidupan yang abadi yang akan ditemui setelah kehidupan didunia.

Seseorang dalam menyambut kematiannya akan terasa lebih siap, merasa tentram, merasa damai dan merasa tenang dalam menghadapi kematiannya. Bukan hanya sekedar membesarkan hati dan mempersiapkan dirinya dalam menyambut kedatangan sesuatu yang pasti yaitu kematian. Lebih dari itu semua, meninggalkan dunia fana bukan sekedar siap atau tidak siap tetapi bagaimana seseorang dapat percaya bahwa kehidupan abadi yang lebih luar biasa akan kita hadapi nanti diakhirat setelah kita semua meninggal.

B.Epistemologi Buku Love, Life, Heaven

Penulis mengantarkan pembaca untuk memahami segala sesuatu tentang kasih sayang, cinta dan bagaimana sebenarnya surga itu dalam persepsi kehidupan diakhirat nanti dengan bahasa yang lugas dan universal. Menjelang ajal, manusia hanya membutuhkan kedamaian dan bantuan spiritual karena kita tidak bisa menghindari kematian.

Kita perlu menyadari bahwa kematian merupakan bagian yang paling penting dalam hidup. Kematian bisa menjemput kita setiap saat. Sangatlah penting bagi setiap individu untuk berpulang dengan damai dan penuh makna, dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya dan orang-orang yang terbaik dalam perawatan, terutama perawatan spiritual ibarat pengandaian bahwa hidup ini tidak pasti, tapi mati adalah sesuatu yang pasti. Buah yang telah matang bisa jatuh kapan saja, demikian pula yang terlahir bisa mati setiap saat.

Kematian itu milik setiap manusia. Semua pasti akan menjumpai kematian pada saatnya. Kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari seluruh keluh-kesah hidup manusia didunia. Cara kita memandang kematian haruslah sama seperti kita memandang kehidupan. Jika dalam hidup ini kita tenang, damai, dan bahagia, kitapun akan berfikir untuk meninggal dengan tenang, damai dan bahagia.

Ibarat roda berputar, waktu tidak akan pernah menunggu kita. Jangan menunda waktu untuk melakukan hal-hal baik dan bermanfaat. Karena sebanyak-banyak waktu yang kita habiskan, sebanyak itu pula sisa waktu hidup kita. Sesungguhnya kematian itu tidak menakutkan tetapi juga tidak mengasyikkan. Kematian adalah realita dipenghujung kehidupan. Terlambat kiranya jika kita baru menghargai kehidupan pada waktu kita sudah menjelang ajal. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk mulai merenungkan hidup ini dan membuat perubahan besar pada tingkah laku kita agar kita tidak menghadapi kematian dengan tangan kosong.

C.Aksiologi Buku Love, Life, Heaven

Kelebihan Buku; Buku love, life dan heaven adalah sebagai berikut:

1.Menginspirasi semua pembaca agar dapat berbuat baik selama hidup didunia, damai dan bahagia kita ajal menjelang tiba dan bisa masuk surga setelah ajal tiba.
2.Perspektif penulis tentang kehidupan, kasih sayang dan surga tidak bertentangan dengan agama apapun dan berlaku universal.
3.Membuka mata hati kita untuk melihat kematian dalam perspektif yang tidak biasa.
4.Inspiratif dan edukatif dalam memandang sebuah kehidupan dengan penuh kasih sayang tanpa melupakan bagaimana cara menghadapi kehidupan yang idealnya juga harus sama dalam memandang kematian.
5.Mencerminkan sebuah ketulusan dalam pengabdian untuk sebuah profesi yang dapat diimplementasikan juga untuk profesi-profesi lain.
6.Mengajarkan norma, etika, estetika dan kebaikan dalam menjalankan sebuah profesi yang bermanfaat bagi orang lain.
7.Memberikan motivasi pembaca untuk berbuat kebaikan dan tidak menyia-nyiakan waktu dalam kehidupan.

Kekurangan Buku; buku love, life dan heaven adalah sebagai berikut:

1.Menggunakan beberapa istilah medis yang agak sulit dipahami pembaca.
2.Menggambarkan dan mengupas sisi kehidupan dan kasih sayang secara lugas dan jelas tetapi kurang memberikan gambaran yang jelas bagaimana perpaduan kehidupan dan kasih sayang tersebut dapat membawa manusia untuk dapat masuk surga dalam perspektif universal.
3.Ilustrasi kehidupan dan kematian belum mencerminkan semua kejadian yang ada pada manusia.

Demikian sahabat laman24.com yang budiman. Ulasan buku Love, Life , Heaven yang ditulis Elisa Herman dari sisi ontologi, epistemologi dan aksiologi. Mudah-mudahan bermanfaat.

Salam inspirasi dari laman24.com!

                                                                                                                         

Post a Comment

10 Comments