Membangun Personal Branding Guru


Sahabat  yang budiman! Guru kreatif akan selalu menghasilkan karya-karya inovatif yang bermanfaat bagi orang lain dan khalayak umum. Guru kreatif akan selalu mengembangkan silabus dan pedoman kurikulum menjadi lebih menarik dan lebih mudah dipahami oleh para peserta didiknya. Guru kreatif akan selalu mencari cara dan solusi agar mata pelajaran yang di ampunya dapat dipahami secara mudah dan utuh oleh para siswanya. Guru kreatif tidak akan mengimplementasikan perangkat pembelajarannya dengan cara biasa-biasa saja, melainkan dengan cara luar biasa.

Guru kreatif juga tidak akan mengharapkan perangkat pembelajaran yang di hasilkan dari forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Guru kreatif  sangat menyadari bahwa indikator pencapaian kompetensi, daya dukung, intake serta karakter peserta didik antara satu sekolah dengan sekolah lain pasti berbeda. Hal inilah yang mendasari bahwa seorang guru sudah semestinya harus kreatif dalam berinovasi sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing demi menghasilkan output yang kompetitif dan berkeahlian.

Sahabat  yang budiman! Membangun personal branding guru tentu harus dimulai dari guru kreatif yang selalu menghasilkan karya inovatif buat semua orang. Membangun personal branding guru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membangun personal branding guru bukan sebuah pencitraan. Personal branding guru lahir dan berdasarkan dari karya inovatif yang dihasilkan. Karya inovatif yang dihasilkan dapat berupa buku rujukan, buku populer, karya ilmiah, aplikasi pembelajaran, video pembelajaran, channel pembelajaran, situs rujukan, blog pembelajaran, website pembelajaran maupun aplikasi-aplikasi lain yang bermanfaat bagi karirnya.

Pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan dan pendidikan tinggi juga sudah memfasilitasi karya inovatif guru. Program seperti “Satu Guru Satu Buku (sagu sabu)” adalah bentuk akomodasi pemerintah dalam mengembangkan karya inovatif guru. Karya ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK), artikel, makalah ataupun jurnal bukan hanya sekedar digunakan untuk kenaikan pangkat mereka saja. Karya ilmiah sudah seharusnya menjadi sumber belajar siswa yang mudah dipahami dan di akses. Karya ilmiah juga sudah seharusnya menjadi budaya buat mereka untuk selalu berinovasi demi perbaikan-perbaikan kualitas pembelajaran yang muaranya adalah output yang kompetitif dan berkeahlian.

Sahabat  yang budiman! Guru sebagai garda terdepan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional harus memiliki kompetensi yang baik dan “bukan kompetensi biasa-biasa saja”. Pemerintah telah menempuh berbagai cara dalam meningkatkan kompetensi guru agar menjadi “bukan guru biasa”. Guru yang kompeten akan menghasilkan produk yang kompeten dan kompetitif. Sebaliknya, guru yang mempunyai kompetensi biasa-biasa saja tentu mustahil akan menghasilkan produk yang luar biasa.

Akan sulit buat guru untuk membangun  Personal branding dirinya apabila kemampuan dan kompetensi yang dimiliki tidak cukup menjadikan dirinya “bukan guru biasa”. Jadi, membangun personal branding guru harus dimulai dengan semangat guru untuk selalu berubah baik dalam meningkatkan kompetensi maupun kinerjanya yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah karya inovatif yang membanggakan jati dirinya sebagai seorang guru. Personal branding diri guru akan terbangun secara otomatis dari karya inovasi ilmiah yang dihasilkan.

Personal branding guru bukan bertujuan untuk over acting atau sekedar gagah-gagahan dari karya inovatif yang dihasilkan, tetapi lebih pada menampilkan unjuk kerja guru yang efektif dan positif bagi dirinya dan orang lain yang bersangkut kait dengan dirinya. Personal branding guru pada prinsipnya adalah proses memperkenalkan diri dan karier sang guru terhadap inovasi atau temuan yang dihasilkan melalui suatu citra yang dibentuk untuk khalayak umum. Citra ini kemudian dapat dipresentasikan lewat berbagai jalur, seperti media sosial, blog, situs web pribadi, hingga perilaku di depan umum. Layaknya produk atau jasa, brand personal memberikan gambaran tentang pengalaman yang akan didapat oleh para siswa ketika berinteraksi dengan pemilik brand (guru tersebut).

Sahabat  yang budiman! Brand personal guru  yang baik dapat memberikan keuntungan secara dua arah. Pertama, sang guru yang dalam hal ini adalah Pemilik brand bisa membuat produk/karya inovasi atau sekolahnya dikenal lebih luas, sementara para siswa yang belajar dengannya bisa merasa lebih percaya diri untuk menggali dan mendapatkan pelajaran secara lebih mudah dan lebih mengerti dari sang guru. Guru yang selalu menghasilkan karya inovatif juga menjadi kebanggaan semua orang. Kebanggaan juga akan dirasakan oleh seluruh stake holder pendidikan seperti dinas pendidikan, pengawas, komite sekolah, dewan pendidikan  bahkan kepala daerah dimana guru tersebut ditugaskan.

Selain itu, dengan personal branding yang dimilikinya seorang guru juga dapat memperluas lingkup penghasilannya. Hal tentu tidak terlepas dari manfaat menjadikan brand personal itu sendiri sebagai salah satu unsur penting dalam strategi wirausaha. Beberapa guru juga  menggunakan personal branding sebagai pendongkrak utama kesuksesan dari channel youtube, program, database, aplikasi, dan blog yang mereka miliki. Bukan suatu hal yang baru lagi kalau seorang guru juga mempunyai profesi lain sebagai youtuber, blogger, programmer, aplikator  bahkan contributor portal berita baik online maupun offline.

Sahabat  yang budiman! Membangun personal branding guru dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut ini:

1.Personal branding yang terencana dan terpercaya

Sahabat  yang budiman! Slogan “ be yourself” tidak bisa diterapkan begitu saja dalam personal branding. Sama seperti karya inovatif yang dihasilkan, guru harus menunjukkan citra pribadi yang positif di depan publik. Hal ini bukan berarti bahwa guru berbohong atau bersandiwara, tetapi justru guru harus tahu kesan seperti apa yang guru inginkan dalam pandangan orang. Karya inovasi harus ditampilkan dalam bentuk kekinian sesuai perkembangan teknologi yang modern. Apabila guru masih merasa gaptek atau belum optimal dalam penggunaan IT, maka tidak salah guru meminta tolong orang lain agar karya inovatif yang dihasilkan dapat di akses secara kekinian oleh semua orang.

Karya inovatif tetap mengedepankan kaidah-kaidah ilmiah yang menjadi jati diri seorang guru. Tampilan nya yang harus dirubah menjadi kekinian sehingga mudah di akses oleh semua orang. Ketika guru mempunyai kiat-kiat dan tip jitu dalam menyelesaikan soal-soal MIPA,  gaya komunikasi yang baik, menjelaskan sesuatu secara runtun, menjadi motivator handal, programer handal, ataupun penulis ulung maka sebaiknya orang lain dapat memukan kelebihan yang guru miliki dan tonjolkan karakteristik tersebut dalam konten-konten (artikel, foto, video, dan sebagainya) dalam bentuk karya inovasi guru. Semakin baik dan banyak konten yang guru buat, kredibilitas guru dalam bidang terkait juga akan ikut meningkat. Guru harus  membuat konten yang sifatnya membantu orang lain, supaya para siswa ataupun stake holder lainnya bisa merasakan manfaat langsung ketika terpapar brand personal guru tersebut.

2.Mengembangkan kepribadian yang positif

Sahabat yang budiman! Membangun personal branding guru sama halnya dengan menjadikan guru seorang publik figur. Kepribadian guru adalah aset terbesar guru itu sendiri. Guru harus harus menjaganya agar selalu tampak baik di muka umum. Luangkan waktu untuk menghadiri acara-acara offline dan bertatap muka dengan orang lain. Di dunia maya, guru juga perlu perlu berinteraksi dengan para siswa dan stake holder lainnya secara reguler, misalnya membalas komentar, menjawab pertanyaan, dan sebagainya. Guru juga harus menjaga perilaku di media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram. Media sosial sejatinya adalah ruang publik juga, jadi apa yang guru tulis di sana akan dilihat dan dinilai oleh masyarakat. Saat ini mendokumentasikan perilaku media sosial sudah sangat mudah, jadi kegagalan menjaga perilaku bisa merusak citra sekolah dan citra guru itu sendiri.

3.Jadilah presentable dan searchable

Sahabat yang budiman! Sebagai figur publik, cepat atau lambat masyarakat pasti akan melihat karya inovatif dan siapa yang menghasilkan karya inovatif tersebut. Guru harus berusaha untuk selalu tampil layak di depan umum, bahkan meski sebenarnya sang guru belum terlalu puas dengan karya yang dihasilkan. Berbagilah pengalaman dan sharing informasi dengan para guru lain yang membutuhkan. Tidak boleh terlalu pelit dengan ilmu dan karya inovasi yang dihasilkan. 

Apabila ada undangan untuk sharing informasi dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD), seminar, workshop dan diklat, usahakan selalu menghadiri untuk berbagi informasi dan pengalaman. Hal ini akan menumbuhkan citra positif bagi diri guru. Hindari sifat sombong dan egois untuk membangun eksistensi dan jati diri guru didepan orang lain. Jangan pernah memasang tarif dari undangan yang diterima karena orang lain akan mudah mengukur diri kita. Percayalah bahwa besar kecilnya honor yang akan diterima sebagai guru tamu sangat tergantung pada bagus tidaknya performance kita dalam menyampaikan materi presentasi. Semakin baik penampilan kita maka orang lain yang akan memikirkan besaran honor yang akan kita terima.

Selain itu, untuk membangun personal branding guru, maka guru juga harus mempunyai akun media sosial. Pasanglah foto-foto yang baik di tempat yang sesuai, bahkan kalau perlu sewalah fotografer profesional. Meski pepatah mengatakan “jangan menilai buku dari sampulnya”, orang tidak akan menanggapi dengan serius bila penampilan yang kita publikasikan terkesan asal-asalan. Bob Sadino mengajarkan bahwa penampilan bukan segalanya. Di samping penampilan, penting juga untuk membuat diri mudah dicari di internet. Ini bisa kamu lakukan dengan membuat profil di berbagai situs yang punya jangkauan luas, seperti Facebook, LinkedIn, atau Twitter. Jagalah agar citra diri di media sosial tetap profesional.

4.Gunakan content outreach

Sahabat yang budiman! Untuk membuat personal branding cepat dikenal, maka konten yang kita buat harus bisa menjangkau massa sebanyak-banyaknya. Hal ini bisa dicapai salah satunya dengan cara content outreach, yaitu menjalin koneksi dengan orang lain yang bisa membagikan dan mempromosikan konten yang kita miliki. Ada beberapa macam pihak yang bisa kamu ajak bekerja sama, misalnya tokoh-tokoh pakar yang sudah banyak dikenal dalam bidang yang sama dengan kita. Bila karya inovasi yang kita hasilkan dibagikan atau dikutip oleh seorang pakar, maka secara otomatis nama pengarang akan menjadi lebih dikenal, sekaligus memunculkan kesan bahwa kita adalah seorang praktisi yang terpercaya. Jalur content outreach seperti ini biasanya muncul dari kenalan pribadi. Jenis kerja sama lain misalnya situs media yang menerima artikel tamu. Kebanyakan media tidak menerima artikel atas nama perusahaan (kecuali advertorial atau sejenisnya), namun akan dengan senang hati menerima artikel berkualitas atas nama individu.

Refleksi dan evaluasi diri harus secara rutin dilakukan agar bisa memberikan penampilan lebih baik di masa depan. Manfaat brand personal tidak hanya muncul selama kita terikat pada suatu lembaga pendidikan atau sekolah saja, melainkan juga dapat meningkatkan citra diri sendiri tanpa ada “embel-embel” institusi dibelakang kita. Citra yang sudah dibentuk tetap akan tertinggal di masyarakat karena bermanfaat buat mereka. Harus selalu menjadi pribadi yang berkualitas dan produktif dimanapun berada.

Post a Comment

10 Comments