Gaya Kepemimpinan dan Kerjasama Tim dalam Pendidikan


Sahabat laman24.com yang budiman! Scheriesheim, et al. (dalam Kreitner dan Kinichi,  1992:516)  menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses pengaruh sosial dimana pemimpin mengupayakan partisipasi sukarela para bawahannya dalam usaha mencapai tujuan organisasi. 

Dalam Total Quality Management (TQM) kepemimpinan adalah kemampuan untuk membangkitkan semangat orang lain agar bersedia dan memiliki tangung jawab total terhadap usaha mencapai atau melampaui tujuan organisasi.Goetch dan Davis, (1991:92) 

Sahabat laman24.com yang budiman! Kepemimpinan tidak hanya berada pada posisi puncak struktur organisasi perusahaan,tetapi meliputi setiap level yang ada dalam organisasi.  Kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari manajemen. 

Secara umum seorang pemimpin yang baik harus memiliki beberapa karakteristik berikut:

1.Tanggung jawab yang seimbang
2.Model peranan yang positif
3.Memiliki ketrampilan komunikasi yang baik
4.Memiliki pengaruh positif
5.Mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang lain

Sahabat laman24.com yang budiman! Menurut Bennis dan Nanus,(1985:184-186), Pemimpin  yang baik juga harus dapat memainkan peranan penting  dalam melakukan tiga hal berikut:

1.Mengatasi penolakan terhadap perubahan
2.Menjadi perantara bagi kebutuhan kelompok-kelompok di dalam dan di luar organisasi
3.Membentuk kerangka etis yang menjadi dasar operasi setiap karyawan dan perusahaan secara keseluruhan

A. Kepemimpinan versus Manajemen
Sahabat laman24.com yang budiman! Tidak semua pemimpin adalah manajer, maka konsep manajemen dan kepemimpinan pun sebenarnya agak berbeda.  Kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari manajemen dan keduanya saling melengkapi.  Beberapa perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan menurut Kotter (dalam Goestch dan Davis,  1994:209)  antara lain:

1.Manajemen berhubungan dengan usaha menanggulangi kompleksitas;  kepemimpinan menanggulangi perubahan.

2.Manajemen berkaitan dengan perencanaan dan penganggaran untuk mengatasi kompleksitas;  kepemimpinan mengenai penentuan arah perubahan melallui pembentukan visi.

3.Manajemen mengembangkan kemampuan untuk melaksanakan rencana melalui pengorganisasian dan penyusunan staf;  kepemimpinan mengarahkan staf untuk bekerja berdasarkan visi.

4.Manajemen menjamin pencapaian rencana melalui pengendalian dan pemecahan masalah;  kepemimpinan memotivasi dan mengilhami orang agar berusaha melaksanakan rencana.

Sahabat laman24.com yang budiman! Dalam Total Quality Management (TQM),  manajer yang sukses adalah manajer yang dapat menggabungkan karakteristik manajer dan pemimpin secara tepat.  Berikut adalah perbandingan antara pemimpin dan manajer:

1.Manajer mengelola;  pemimpin melakukan inovasi
2.Managers are copies;  leaders are originals
3.Manajer memelihara;  pemimpin mengembangkan
4.Manajer focus pada system dan struktur; pemimpin focus pada manusia
5.Manajer mengandalkan pengendalian;  pemimpin mengilhami
6.Manajer menggunakan mindset jangka pendek;  pemimpin menggunakan mindset jangka panjang
7.Manajer menekankan aspek bagaimana dan kapan;  pemimpin menekankan aspek apa dan mengapa
8.Manajer menerima status quo;pemimpin menantangnya
9.Manajer melakukan "do things right";  pemimpin melakukan "do the right things"

B. Kepemimpinan demi tercapainya kualitas
Sahabat laman 24.com yang budiman! Kepemimpinan didasarkan pada filosopi bahwa perbaikan metode dan proses kerja secara berkesinambungan akan dapat memperbaiki kualitas,  biaya, produktivitas,  ROI dan meningkatkan daya saing.  Maka untuk mencapai filosopi tsb dibutuhkan kepemimpinan yang memiliki karakteristik berikut (Ross,  1994:34): 1).Visible,  committed,  dan knowledgeable. 2). Semangat misionaris. 3). Target yang agresif. 4). Strong driver. 5). Komunikasinilai-nilai. 6). Organisasi. 7). Kontak dengan pelangggan.

Maka kaitannya dengan TQM karakteristik itu meliputi (Scholte dalam Goestch dan Davis,  1994:197-199): 1). Fokus pada pelanggan. 2). Obsesi terhadap kualitas. 3). Pemahaman mengenai struktur pekerjaan. 4). Kebebasan yang terkendali. 5). Kesatuan tujuan. 6). Melacak kesalahan dalam system. 7). Kerjasama tim. 8).Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.

Sementara,  Joseph M.  Juran menyatakan bahwa kepemimpinan yang mengarah pada kualitas meliputi tiga fungsi manajerial,  yaitu perencanaan, pengendalian dan perbaikan kualitas secara berkesinambungan.

C. Gaya kepemimpinan

Sahabat laman24.com yang budiman! Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahannya.  Ada lima macam gaya kepemimpinan,  yaitu otokratis,  demokratis,  partisipatif,  orientasi pada tujuan dan situasional.

Selain itu, kepemimpinan partisipatif yang lebih tinggi level/tingkatannya  yang  meliputi upaya  mencari masukan dari karyawan yang diberdayakan,  mempertimbangkan masukan tersebut dan bertindak berdasarkan masukan itu.  Jadi perbedaan utamanya adalah pada pemberdayaan karyawan.

Sahabat laman24.com yang budiman! Dalam rangka membentuk keanggotaan (followership),  ada enam paradigma yang harus diperhatikan,  menurut Covey meliputi: 1). Menang/Menang. 2). Menang/Kalah. 3). Kalah/Menang. 4). Kalah/kalah. 5). Menang. 6). Menang/Menang atau tidak ada transaksi.

Total Quality Management lebih menghendaki pendekatan paradigma menang/menang karena pendekatan ini kedua pihak bekerjasama untuk menemukan solusi terbaik untuk mempertahankan followers.

D. Kerjasama tim: karakteristik dan manfaat

Kerjasama tim merupakan salah satu unsure fundamental dalam TQM.  Tim merupakan sekeompok orang yang memiliki tujuan bersama.  Beberapa factor yang mendasari perlu dibentuknya tim dalam suatu perusahaan adalah:

1.Pemikiran  dari 2 orang atau lebih cenderung lebih baik daripada pemikiran satu orang saja
2.Konsepsinergi (1+1 > 2) yaitu bahwa hasil dari tim jauh lebih baik daripada jumlah bagiannya
3.Anggota tim dapat saling mengenal dan saling percaya sehingga mereka dapat saling membantu
4.Kerjasama tim dapat menyebabkan komunikasi terbina dengan baik.

E. Faktor-faktor penghambat kesuksesan kerjasama tim

Sekumpulan orang belum tentu merupakan suatu tim.  Orang-orang dalam suatu kelompok tidak secara otomatis dapat bekerja sama.  Penyebab utamanya adalah factor manusia.  Beberapa aspek diantaranya adalah:

1.Identitas pribadi anggota tim
2.Hubungan antar anggota tim
3.Identitas tim di dalam organisasi,  yang terdiri dari dua aspek,  yaitu: kesesuaian atau kecocokan tim dalam organisasi dan pengaruh keanggotaan dalam tim tertentu terhadap hubungan dengan anggota diluar tim.

F. Kunci keberhasilan kerjasama tim
1.saling ketergantungan
2.perluasan tugas
3.penjajaran
4.bahasa yang umum
5.kepercayaan/respek
6.kepemimpinan/keanakbuahan yang dibagi rata
7.keterampilan pemecahan masalah
8.keterampilan menangani konfrantasi/konflik
9.penilaian/tindakan
10.perayaan

G. Penerapan Kepemimpinan dan Kerja Sama Tim di Lembaga Pendidikan
Kepemimpinan sekolah telah berubah dengan cepat dalam tiga dekade terakhir khususnya dalam reformasi pendidikan, sebagaimana usaha dalam gerakan-gerakan reformasi, seperti pencapaian sekolah yang efektif, pergeseran ke manajemen berbasis sekolah, penekanan pada perencanaan pembangunan di sekolah, jaminan kualitas pendidikan sekolah, pelaksanaan program cuirriculum baru dan aplikasi teknologi informasi dalam pendidikan.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, kepemimpinan sekolah, adminisitration pendidikan dan reformasi difokuskan pada peningkatan metode pengajaran, desain kurikulum, alat bantu belajar dan fasilitas, dan input sumber daya khususnya di beberapa negara Barat maju. Namun sayangnya, dampak dari upaya ini sering diabaikan, meskipun upaya-upaya besar telah dilakukan  dalam  inovasi prasarana dan fasilitas sekolah, kinerja, tetapi hasil belajar siswa tampaknya tidak ada perbaikan yang signifikan sehingga efektivitas kinerja sekolah untuk siswa diragukan.

Pada periode ini Peran sekolah dalam efektivitas kepemimpinan  pendidikan  telah diabaikan  (Coleman,  et al.  1966; Averch et  al.,  1974: Gross  & Gross. 1985). Pada 1980-an mulai adanya perubahan  kebijakan pendidikan tentang  kemajuan dalam ilmu manajemen dan pengembangan manajemen di sektor bisnis dan industri, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, bahwa harus mengalihkan fokus mereka dari kelas ke tingkat organisasi.

Pergeseran ini berarti meningkatkan sistem dan manajemen sekolah. Secara bertahap, masalah kepemimpinan sekolah mendapat perhatian lebih di kalangan pendidik, peneliti dan pembuat kebijakan (Leithwood & Duke, 1999). Sejak akhir tahun 1980-an terjadi ledakan reformasi sekolah di kawasan Asia-Pacilic dan bagian lain dari dunia sebagai akibat dari perubahan yang beragam di lingkungan pendidikan, yang menimbulkan sembilan kecenderungan reformasi pendidikan yang tren utamanya meliputi:

1.Membangun kembali visi nasional yang baru dan tujuan pendidikan;
2.Restrukturisasi sistem pendidikan pada tingkat yang berbeda;
3.Privatisasi dan diversifikasi pendidikan;
4.Meningkatkan keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pendidikan dan manajemen;
5.Menjamin kualitas pendidikan, standar dan akuntabilitas;
6.Peningkatan dan desentralisasi manajemen berbasis sekolah;
7.Meningkatkan kualitas guru dan program PKB seumur hidup dari para guru dan kepala sekolah;
8.Penggunaan teknologi informasi dalam PBM dan menerapkan teknologi baru dalam manajemen;
9.Terjadinya pergeseran paradigma dalam belajar, mengajar dan penilaian.

Sahabat laman24.com yang budiman! Perubahan ini menjadi tantangan bagi kontek pimpinan sekolah dan perlunya pergeseran paradigma dalam kepemimpinan sekolah (Cheng. l996a 1-2; Cheng, 1999a: Cheng & Townsend 2000).

Sahabat laman24.com yang budiman! Mengingat pentingnya inisiatif dan kreativitas manusia dengan perkembangan dunia baru. individualisasi pasti menjadi elemen kunci dalam reformasi pendidikan untuk masa depan. Implikasi utama untuk kepemimpinan sekolah masa depan adalah untuk meningkatkan inisiatif manusia dalam pendidikan termasuk motivasi, upaya dan kreativitas siswa dan guru.

Dengan dukungan teknologi informasi dan pendekatan baru untuk belajar. Sekolah perlu untuk mengimplementasikan individualisasi dalam pendidikan melalui langkah-langkah seperti melaksanakan program pendidikan individual; merancang dan menggunakan target belajar individual, metode, dan jadwal kemajuan; mendorong siswa untuk belajar mandiri, aktualisasi diri, pemenuhan kebutuhan khusus individu, dan mengembangkan kecerdasan majemuk siswa.

Sahabat laman24.com yang budiman! Kepemimpinan internal, kepemimpinan antarmuka, dan kepemimpinan masa depan didasarkan pada paradigma yang berbeda dan yang memiliki kekuatan dan focus yang berbeda.

Namun, semua dari itu adalah penting dan diperlukan untuk memberikan kerangka kerja yang komprehensif bagi para pemimpin sekolah untuk memimpin dan mengelola pendidikan sekolah di abad baru ini, tiga jenis kepemimpinan yang saling melengkapi satu sama lain adalah peningkatan antarmuka internal, akuntabilitas dan masa depan yang relevansi menjadi pertimbangan.

Pemimpin sekolah dapat melakukan tidak hanya kepemimpinan internal dan antarmuka, tetapi juga kepemimpinan masa depan, kepemimpinan mereka dapat dianggap sebagai kepemimpinan sekolah total.

Post a Comment

4 Comments