loading...

5 Manfaat Survei Karakter (SK) menurut Nadiem Makarim


Sahabat yang budiman! Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut dengan suka rela dan tanpa paksaan dari siapapun sehingga memunculkan kesadaran dalam masing-masing individu untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Implementasi pendidikan karakter  disekolah pada prinsipnya sudah berjalan baik dan berkualitas, tetapi belum ada alat ukur yang tepat untuk melakukan pemetaan pendidikan karakter di sekolah-sekolah di Indonesia. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga masih mencari formulasi yang tepat dalam mengukur implementasi pendidikan karakter di sebuah sekolah sebagai dasar pertimbangan dan pondasi dalam membuat kebijakan terkait pendidikan karakter di sebuah sekolah.

Sahabat yang budiman! Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi siswa agar menjadi manusia yang baik dan berahlak mulia, berguna bagi bangsa dan negara serta agama. Oleh karena  itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai-nilai luhur   yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri dalam rangka  membina kepribadian generasi muda agar tidak terpapar oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.

Sahabat yang budiman! Layaknya kemampuan kognitif dan psikomotorik, maka pendidikan karakter sebagai bentuk kemampuan afektif siswa sudah semestinya juga dapat terukur dengan baik. Hal tersebut akan sangat berguna bagi semua stake holder pendidikan termasuk pemerintah.

Bagi pemerintah dengan adanya asesmen karakter siswa secara nasional maka akan menjadi bahan dan masukan dalam membuat kebijakan strategis demi mewujudkan tujuan pendidikan  karakter di sekolah.  Selain itu, Survei Karakter (SK) juga berfungsi sebagai bahan pemetaan tentang pentingnya implementasi karakter bagi sekolah di seluruh Indonesia.

Sahabat yang budiman! Tidak dapat dipungkir bahwa selama ini alat ukur kualitas pendidikan di Indonesia dalam rangka memetakan persebaran dan pemerataan pendidikan di Indonesia adalah Ujian Nasional(UN). Tetapi sayangnya Ujian Nasional (UN) juga  hanya mengukur kemampuan kognitif siswa. UN tidak dapat mengukur kualitas karakter dan kemampuan afektif siswa serta bagaimana suasana dan lingkungan sekolah sebagai tempat belajar dan tempat interaksi siswa setiap hari.

Sebagian sekolah memang telah mencoba berbagai terobosan dan cara dalam membentuk karakter tangguh, berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, bekerja sama, bergotong royong, jiwa patriotik, suka menolong sesama, berkembang dengan dinamis, berorientasi pada ilmu pengetahuan serta teknologi, beriman dan bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa. Hal ini sangat baik dan harus selalu dijaga karena rakyat Indonesia adalah beragam dan bukan seragam. Tetapi untuk memastikan hal tersebut telah berjalan dengan baik pemerintah juga kesulitan karena belum mempunyai alat ukur yang tepat dan akurat.

Sahabat yang budiman! Survei Karakter (SK) yang direncanakan bersamaan dengan Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan dapat mengukur bukan hanya kemampuan kognitif dan psikomorik siswa, tetapi sekaligus akan mengukur sejauh mana pendidikan karakter telah berjalan baik disebuah lingkungan pendidikan.

Dalam Survei Karakter, pemerintah ingin memastikan bahwa ekosistem sekolah, azas pancasila, toleransi, welfare(rasa nyaman dan bahagia) di sekolah sudah berjalan dengan baik serta bullying  sudah tidak terjadi lagi dalam lingkungan pendidikan. Hal ini penting untuk dilakukan karena walaupun pendidikan karakter juga sudah berjalan dan menjadi sebuah keharusan, tetapi fakta dilapangan justru kadang berbanding terbalik dengan laporan keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri.

Sahabat yang budiman! Fakta yang terjadi saat ini adalah masalah bullying, intoleransi, pudarnya nilai-nilai Pancasila, dan lain sebagainya tetap menjadi “trending topic” media sosial hampir setiap hari tanpa ada filter yang maksimal sehingga menjadi tontonan para pengguna media sosial setiap hari. Hal ini sangat tidak baik bagi perkembangan karakter anak dan terkadang akan menimbulkan dampak negatif pada anak.  Kejadian tersebut merupakan sebuah bukti bahwa sebenarnya masih ada masalah dengan pendidikan karakter di lingkungan pendidikan  kita.

Disisi lain, Pemerintah juga harus mempunyai data yang tepat dan akurat untuk menemukan solusi terhadap permasalahan-permasalahan karakter tersebut. Oleh karena itu, pemerintah akan melakukan asesmen dalam bentuk Survei Karakter (SK) bagi para peserta didik. Hasil SK tersebut akan menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan dan langkah-langkah yang akan diambil dalam membina dan meningkatkan pendidikan karakter bagi siswa di Indonesia.

Sahabat yang budiman! Adapun 5 manfaat  Survei Karakter yang akan dilakukan Pemerintah menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim adalah sebagai berikut.

1. Dengan Survei Karakter maka kita akan dapat mengetahui kondisi ekosistem (hubungan timbal balik) di sebuah sekolah sebagai tempat belajar para siswanya.

Sahabat  yang budiman! Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran bagi anak adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan kondusif. Lingkungan pembelajaran yang dimaksud adalah semua hal yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan menjadi benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, sehingga pada diri anak terjadi proses pengolahan informasi menjadi pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil dari proses belajar .

Sahabat yang budiman! Lingkungan belajar yang nyaman dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh anak secara individual. Dengan demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Selain itu,  faktor yang akan membuat situasi belajar mengajar menjadi kondusif adalah baiknya lingkungan fisik yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah seperti ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik juga mencakup sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya.

Dan yang terakhir yang dapat menjaga situasi belajar kondusif adalah lingkungan sosial yang merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, lingkungan sosial yang baik memungkinkan adanya interaksi yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran sehingga menghasilkan output yang berkualitas.


2. Dengan Survei Karakter (SK) maka kita akan dapat mengetahui sejauh mana implementasi asas-asas Pancasila dapat dirasakan dan diamalkan oleh warga sekolah.

Sahabat yang budiman! Lima asas penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara indonesia yang memiliki peranan penting dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga apa yang di cita-ciitakan bangsa Indonesia dapat terwujud.

Pada tatanan bernegara ideologi bangsa yaitu pancasila  mengandung konsep dasar mengenai apa-apa yang di cita-citakan oleh sebuah bangsa Indonesia. Dan asas pancasila bisa dikatakan sebagai ajaran filsafat yang bersifat religius memiliki korelasi terhadap nilai-nilai agama. Pancasila sejatinya telah  menjadi cita-cita moral serta sebagai falsafah  hidup untuk mewujudkan persatuan serta membangun perdamaian.

Sahabat yang budiman! Sebagai negara yang sangat kaya dengan berbagai macam budaya, bahasa,suku, ras, agama dan lain sebagainya, Indonesia merupakan bangsa yang berdiri atas dasar kemajemukan sehingga disebut juga sebagai negara multikultural. Hal tersebut merupakan bonus demografi yang sangat luar biasa. Selain itu dengan kekayaan yang sangat melimpah ruah maka menjadi tugas kita bersama untuk menjaga keutuhannya dan  jangan sampai menjadi bomerang tersendiri bagi masyarakat Indonesia.

Sebagai ideologi bangsa, pancasila harus dipegang teguh dalam  segala aspek kehidupan bernegara sebagai perekat antar bangsa menjalin persatuan dan senantiasa menjaga perdamaian. Selain itu,  pancasila bukan hanya sebagai asas semata akan tetapi berupa sikap moral serta tindakan yang harus dijalankan sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan disepakati bersama tidak bisa diganggu gugat dan  bersifat fundamental.

3. Dengan Survei Karakter (SK) maka kita akan dapat mengetahui apakah level toleransi sudah berjalan dengan baik (sehat) di suatu sekolah.

Sahabat yang budiman! Tolerasi adalah suatu sikap yang saling menghargai kelompok – kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Toleransi adalah suatu perbuatan yang melarang terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam masyarakat.

Adanya toleransi agama menimbulkan sikap saling menghormati masing-masing pemeluk agama untuk menjalankan kewajiban agamanya dengan rasa aman dan damai.  Sikap toleransi sangat penting untuk dijaga karena dengan toleransilah kita dapat menciptakan sikap saling menghargai antar satu dengan yang lain. Mayoritas harus melindungi minoritas, begitu juga sebaliknya minoritas juga harus menghormati mayoritas. Itulah prinsip dasar toleransi yang harus selalu dijaga.

Sahabat yang budiman! Sikap toleransi ini juga hadir karena keanekaragaman manusia, baik secara fisik,akal perasaan,pendapat,hingga perbedaan suku,warna kulit,ras dan agama. Contoh dari toleransi antar umat beragama ialah sikap diri kita sebagai  masyarakat yang dengan keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berbeda antar satu dengan yang lainnya. Toleransi tersebut dikembangkan dalam bentuk saling menghormati dan saling menghargai antar sesama umat beragama. Toleransi juga tidak mengijinkan perbuatan diskriminatif terhadap pemeluk agama lain.

4. Dengan Survei Karakter (SK) maka kita akan dapat mengetahui apakah welfare (kebahagiaan anak di sekolah sudah mapan dan berjalan baik)

Sahabat yang budiman! Sebagai lingkungan pendidikan, sekolah harus menjadi tempat yang benar-benar nyaman bagi para siswanya. Sekolah secara sadar harus selalu berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab.  Sekolah harus benar-benar menjadi tempat yang ramah bagi seluruh siswanya.

Sahabat  yang budiman! Sekolah juga harus benar-benar aman, bersih, sehat, hijau, inklusif dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi dan psikososial anak perempuan dan anak laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus. Hal ini perlu didukung oleh berbagai pihak antara lain keluarga dan masyarakat yang sebenarnya merupakan pusat pendidikan terdekat anak. Lingkungan yang mendukung, melindungi memberi rasa aman dan nyaman bagi anak akan sangat membantu proses mencari jati diri. Kebiasaan anak memiliki kecenderungan meniru, mencoba dan mencari pengakuan akan eksistensinya pada lingkungan tempat mereka tinggal.

Selain itu, sekolah dituntut untuk mampu menghadirkan dirinya sebagai sebuah media, tidak sekedar tempat yang menyenangkan bagi anak untuk belajar. Sekolah juga harus menjadi tempat bermain yang menyenangkan bagi siswanya. Dalam bermain itulah sesungguhnya anak melakukan proses belajar dan bekerja. Sekolah merupakan tempat bermain yang memperkenalkan persaingan yang sehat dalam sebuah proses belajar-mengajar.

Sahabat yang budiman! Sekolah bukan merupakan dunia yang terpisah dari realitas keseharian anak dalam keluarga karena pencapaian cita-cita seorang anak tidak dapat terpisahan dari realitas keseharian. Keterbatasan jam pelajaran dan kurikulum yang mengikat menjadi kendala untuk memaknai lebih dalam interaksi antara pendidik dengan anak. Untuk menyiasati hal tersebut sekolah dapat mengadakan jam khusus diluar jam sekolah yang berisi sharing antar anak maupun sharing antara guru dengan anak tentang realitas hidupnya di keluarga masing-masing.

Bentuk pelaksanaan kegiatan tersebut, misalnya: diskusi bagaimana hubungan dengan orang tua, apa reaksi orang tua ketika mereka mendapatkan nilai buruk di sekolah, atau apa yang diharapkan orang tua terhadap mereka. Hasil pertemuan dapat menjadi bahan refleksi dalam sebuah materi pelajaran yang disampaikan di kelas.

5. Dengan Survei Karakter (SK) maka kita akan dapat mengetahui masih adakah bullying yang terjadi pada siswa di sekolah.

Sahabat yang budiman! Kita semua sepakat bahwa bullying tidak boleh terjadi dilingkungan sekolah. Bullying adalah musuh bersama kita yang harus kita lawan dan kita hindari. Bullying merupakan perilaku mengancam, menindas dan membuat perasaan orang lain tidak nyaman.

Tetapi tidak dapat dipungkiri pula bahwa bullying juga masih berlangsung dari masa ke masa di dalam dunia pendidikan.  Hal ini tentu sangat menyedihkan karena akan menjadi potret buram pendidikan kita. Semua orang bisa menjadi korban atau malah menjadi pelaku bullying. Untuk mengatasinya diperlukan kebijakan yang bersifat menyeluruh di sekolah. Sebuah kebijakan yang melibatkan komponen dari guru sampai siswa, dari kepala sekolah sampai orang tua murid.

Sahabat yang budiman! Sekolah juga harus memastikan bahwa program anti bullying memang benar-benar dijalankan dengan baik sehingga bullying tidak terjadi dilingkungan pendidikan. Kebijakan hanya akan berlangsung baik apabila ada langkah yang nyata dari sekolah untuk menyadarkan seluruh komponen sekolah betapa bullying sangat mengganggu proses belajar mengajar.  Dari semua kegiatan serta pelaksanaan langkah diatas diharapkan sekolah menjadi tempat yang paling aman bagi anak serta guru untuk belajar dan mengajar. Tidak hanya pihak Sekolah yang berperan tetapi dari orang tua serta masyarakat umum juga berperan dalam hal Stop Bullying.

Sahabat yang budiman! Untuk memastikan 5 hal tersebut apakah sudah benar-benar berjalan dengan baik atau belum maka pemerintah akan mengukur melalui Survei Karakter (SK) yang waktunya bersamaan dengan Asesmen Kompetensi Minimal (AKM).  Walaupun Survei Karakter akan dibuat sedemikian rupa dan mengarah kepada penalaran individu dalam implementasi karakternya pada kehidupan sehari-hari mereka, tetapi bukan berarti pertanyaan yang akan muncul adalah pertanyaan normatif seperti apa pengertian toleransi, apa definisi bullying atau apa arti ekosistem sekolah, dan lain sebagainya. Kuesioner ataupun angket yang akan dibuat akan lebih spesifik yaitu berkenaan dengan makna dan implementasi dari suatu poin karakter.


Post a Comment

0 Comments