loading...

Filosofi dan Sifat Ayah


Sahabat  yang budiman! Figur seorang ayah bagi anak-anak merupakan figur yang tidak tergantikan oleh siapapun. Seorang anak akan sangat sulit mencari pembanding  yang menyamai apalagi melebihi ayah kandungnya.  Bagi anak-anak ayah bukan hanya sekedar tempat bermanja-manja dan tempat berkeluh kesah tetapi juga tempat yang paling asyik untuk bercerita tentang bagaimana mewujudkan cita-cita dimasa depan.

Ayah biasanya akan lebih “open minded” dalam hal mengabulkan semua permintaan anak-anaknya. Ayah akan lebih demokratis untuk masa depan anak-anaknya daripada ibu. Ayah juga tidak akan mau melihat anak-anaknya menderita, walaupun masa kecil ayah sangat penuh dengan penderitaan dan kekurangan. Ayah adalah figur yang tidak tergantikan oleh siapapun juga. Karena ayah adalah sosok yang paripurna bagi anak-anak tercintanya.

Sahabat  yang budiman!  Ayah adalah figur pemersatu yang benar-benar menjadikan keluarga menjadi tentram dan damai. Ayah adalah pejuang tangguh untuk membahagiakan semua anggota keluarga. Ayah bukan sekedar membanting tulang mencari nafkah bagi seluruh anggota keluarga, tapi ayah juga pejuang sejati untuk turut mengantarkan anak-anak dalam mencapai impian, harapan dan cita-citanya dimasa depan.

Banyak pelajaran berharga dari sosok seorang ayah yang terkadang kita lupa. Ayah bukan minta dikenang atau disayang karena ayah adalah sosok pemberi yang tidak akan pernah berharap dan minta kembali.  Ayah bukan sekedar berperan sebagai orang tua yang luar biasa, tetapi ayah sekaligus dapat berperan sebagai teman yang paling mengasyikkan untuk diajak bercerita. Ayah juga akan selalu siap dan siaga kapan dibutuhkan oleh seluruh anggota keluarga.

Sahabat yang budiman! Begitu banyaknya cerita tentang kebaikan dan bijaksananya seorang ayah yang dapat menggugah semangat dalam kehidupan. Adapun 6 filosofi ayah adalah sebagai berikut:
1. Ayah adalah cinta pertama dan selamanya bagi anak gadisnya, karena sang  anak gadis tahu seorang Ayah pasti tidak akan pernah menyakiti hatinya.

Sahabat yang budiman! Figur seorang ayah bagi anak perempuannya merupakan sosok lelaki pertama yang mucul di hadapannya. Ayah adalah lelaki pertama dan terdekat dan akan selalu berada  disisinya. Kejadian ini akan terus berlanjut hingga anak perempuan menjadi seorang wanita yang besar, remaja, dewasa, hingga telah bersuami. Ayah tetap akan selalu ada buat anak perempuannya dimanapun dan kapanpun dibutuhkan.

Begitu berartinya seorang ayah bagi anak perempuannya sampai ketika menentukan pasangan hidupnya pun terkadang anak perempuan akan selalu membandingkan dengan ayahnya. Bahkan tak jarang akan menjadi kriteria calon pasangannya. Dengan bahasa sederhana ketika ada pertanyaan “ apa syarat dan kriteria calon yang diinginkan?” maka banyak anak perempuan akan menjawab “ seperti ayahlah”.

Jawaban itu terkesan sekenanya, tapi kalau kita telaah lebih dalam lagi begitulah kesan seorang ayah bagi anak gadisnya. Selain itu, rasa dan kesan itu muncul karena sang anak gadis menyadari sepenuhnya bahwa cinta sang ayah pada anak perempuannya, lebih besar daripada lelaki manapun.

Ayah tidak akan pernah menggunakan ototnya untuk perilaku anak gadisnya dimaa kecil sekalipun perilaku itu terkadang terkesan kurang baik. Justru Ayah tidak pernah merasa bosan untuk selalu menjaga dan menemani anak perempuannya bermain-main. Dirinya akan berusaha untuk membawa anak perempuannya ke tempat terbaik, yang akan menyenangkannya hingga sang anak perempuan pun bangga terhadap ayahnya.

Begitulah superiornya figur seorang ayah dimata anak perempuannya. Hingga sesudah menikah pun anak perempuan akan selalu menyambangi sang ayah walau hanya sekedar melihat dan bertanya kabar.

2. Ayah adalah teman terbaik bagi anak laki-lakinya karena sang anak tahu bahwa ayah akan selalu ada di saat anak laki-lakinya mengalami masa sulit

Sahabat  yang budiman! Beda jenis kelamin beda pula karakter dan beda pula cara mendidik bagi seorang ayah. Ada beberapa hal yang secara khusus harus ada dalam proses pendidikan kepada anak laki-laki, di aantaranya adalah "model". Anak laki memerlukan model dalam kehidupannya. Model inilah yang nantinya akan banyak memberikan inspirasi dan modelisasi pada diri anak. Ayah adalah inspirator utama bagi anak laki-laki. Apapun perangai dan perilaku ayah biasanya akan menurun ke anak laki-lakinya.

Ayah bagi anak laki-laki memberikan peran yang sangat penting dalam mendukung tumbuh-kembang anak. Dalam menjalankan peran pendidikan ini, seorang ayah harus menyadari tentang keberadaan bagi anak-anaknya, lebih khusus bagi anak laki-laki. Ayah tidak hanya bertugas memberikan nafkah, tapi juga memiliki peran sebagai pendidik.

Ayah akan selalu mengajarkan karakter yang baik bagi anak-anaknya, seperti: kejujuran, sportifitas, tanggung jawab, kerja keras, disiplin, pengorbanan, siap memghadapi kesulitan, pengayom, dan tentunya kepemimpinan yang baik.

Banyak contoh dan pengalaman yang terjadi dilingkungan sekitar kita bahwa pada saat laki-laki bermasalah dengan  pembentukan nilai dan karakternya biasanya karena tidak mendapatkan sentuhan kasih sayang dan karakter seorang ayah. 

3. Ayah adalah sosok pemberi yang tidak pernah berharap dibayar kembali

Sahabat  yang budiman! Layaknya ibu, maka ayah juga merupakan sosok yang luar biasa. Dia selalu memberikan yang terbaik buat kita sebagai anak-anaknya dan ia tidak pernah berharap kembali apa yang telah dia berikan kepada kita semua , karena semua yang diberikan kepada kita berdasarkan ketulusan dan keikhlasan.

Semua perjuangan dan kerja kerasnya untuk kita semua adalah bentuk tanggung jawab dan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Ayah memberi tapi ia  tidak akan pernah berharap kembali. Ayah tidak akan pernah meminta apapun dari kita kecuali do’a-do’a anak yang sholeh.

Ayah menyadari betul bahwa ketika ayah nanti sudah tidak ada didunia, maka hanya do’a anak-anak yang sholeh yang akan menolongnya. Ayah juga menyadari bahwa ketika ayah sudah tidak ada didunia lagi, maka setidaknya ayah juga sudah memberikan yang terbaik buat semua anggota keluarga. Termasuk semua anak-anak yang sangat ia sayang.

4. Ayah adalah sosok yang akan selalu siap untuk menjadi benteng pertahanan terakhir anak-anaknya karena seorang ayah tidak akan membiarkan orang lain menyakiti anak-anaknya.

Sahabat  yang budiman! Layaknya sedang mencari tempat yang paling aman dari musuh-musuh kita dan sekaligus tempat pelindung, maka ayah adalah jawabannya.  Ayah tidak akan membiarkan semua anaknya terluka atau sakit hati karena orang lain. Ayah ibarat benteng kokoh dan tangguh yang tidak akan sanggup ditembus oleh musuh-musuh ayang datang.

Ayah bukan hanya tameng  bagi seluruh anak-anaknya tapi juga sekaligus benteng. Ayah tidak akan peduli siapa yang salah dan siapa yang benar. Ayah telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan bagi anak-anaknya, termasuk masalah sportifitas. Ayah tentu akan sangat kecewaa dan marah besar apabila mendapatkan anak-anaknya tidak berjiwa kesatria dan tidak sportif. Tapi disisi lain ayah lebih tidak senang lagi kalau ada orang lain yang menghakimi anak-anaknya.

Memang yang ayah tahu adalah anak-anaknya harus ia bela. Ia tidak akan tinggal diam apabila ada ada orang lain menyakiti anak-anaknya. Kalaupun anak-anaknya salah maka sebesar apapun kesalahan itu orang lain tidak boleh menghakimi anak-anaknya. Ayah selalu mengajarkan sportivitas dan kebaikan pada orang lain dan juga pada sesama. Ia akan marah besar kalau anak-anaknya tidak sportif karena itu bukan karakter yang pernah ayah ajarkan.

5. Marahnya ayah adalah bentuk sayang yang tidak akan pernah terucapkan

Sahabat yang budiman! Semarah dan sekeras apapun seorang ayah pada anak-anaknya tidak akan mengurangi rasa sayangnya terhadap anak-anaknya. Justru dengan marah dan kerasnya  sang ayah dalam mendidik anak anak-anaknya membuktikakan bahwa ia memang benar-benar sayang terhadap anak-anaknya.

Sejujurnya, seoarang ayah juga sangat menyelesali dirinya apabila ia marah besar dan agak keras dengan anak-anaknya. Ayah menyadari bahwa itu juga tidak baik bagi perkembangan anak-anaknya. Tetapi ayah tetap harus mengatakan yang salah memang salah dan yang benar memang benar.

Ayah sering menyadari bahwa dengan kemarahannya terkadang akan berdampak negatif pada anak-anaknya. Ayah diam-diam juga sering menyesalinya. Sebelum tidur kadang ayah interopeksi diri atas apa yang telah ia ucapkan dan lakukan terhadap anak-anaknya. Ayah sangat menyesal apabila bahasa yang dia gunakan dalam memarahi anak-anaknya terlalu keras. Begitu juga dalam perjalanan menuju tempat kerja, biasanya ia akan memikirkan apa yang telah ia lakukan terhadap anak-anaknya. Ayah akan selalu menimbang semua yang dilakukan terhadap anak-anaknya. Ayah pasti akan menyesalinya. Karenanya waktu bangun tidur atau sore setelah pulang kerja ayah akan langsung baik kepada anak-anaknya sebagai bentuk penyesalan dirinya.

Sahabat yang budiman! Dan sebagai anak-anaknya, kta juga harus membiarkan ayah menyampaikan apa yang ia rasakan, Jangan mencoba untuk memotong pembicaraannya. Dengarkan kemarahannya dan alasan apa yang membuat ia marah. Usahakan kita terlihat tertarik untuk mendengarkan apa yang ia katakan. Biarkan ayah tahu bahwa kita bersimpati tentang bagaimana perasaannya. Jangan mencoba untuk berdebat dengan pernyatannya. Setelah selesai ayah berbicara, kita bisa menanggapi dengan mengatakan sesuatu seperti,”Saya mengerti bagaimana perasaan ayah.”

Selain itu, Usahakan kita juga dapat berbicara dengan ayah saat ia sudah tenang. Jangan mencoba untuk membantah apa yang ia bicarakan sebelumnya, melainkan kita menjelaskan hal tersebut dari sudut pandang kita. Akhiri percakapan kita  dan ayah dengan positif. Biarkan ayah tahu bahwa kita mengerti tentang apa yang membuatnya marah. kita bisa berbicara tentang hal ini nanti lagi, ini akan memberikan waktu kepada ayah untuk memikirkannya lagi dan mendinginkan emosinya.

6. Ayah tidak akan pernah menampakkan rasa sakit dan penderitaan yang dialaminya didepan anak-anaknya walaupun ia terpuruk dan sakit. Ayah akan selalu tersenyum di balik rasa sakit dan penderitaan yang ia alami.

Sahabat  yang budiman! Sesakit apapun ia tidak akan pernah mengatakan jujur kepada kita. Ia akan selalu tersenyum buat kita. Ayah mengalami penderitaan yang begitu dalam juga tidak akan pernah jujur mau bercerita dengan anak-anaknya.

Begitulah figur dan sosok seorang ayah. Sakit yang ia alami akan ia tahan terus dan tak jarang ayah diam-diam pergi sendiri ke dokter untuk berobat dan memeriksakan kesehatannya. Hal ini bukan tanpa alasan. Ayah tidak ingin merepotkan seluruh anggota keluarga. Ayah juga tidak ingin menjadi beban keluarga apabila nanti dokter mengatakan penyakit yang sesungguhnya di derita ayah.

Ayah tetap akan menyimpan semua penyakit yang ia derita. Sampai terkadang kita sebagai anak-anaknya heran ketika sang ayang telah tiada. Kita tidak percaya bahwa terkadang ayah yang kita sayang pergi begitu cepat sebelum kita membahagiakannya. Ayah tidak pergi begitu cepat, tapi ayah selama ini yang tidak mau menampakkan bahwa dirinya kita sakit. Dan kesalahan terbesar kita sebagai anak-anaknya juga tidak pernah memahami dan mencoba mencari tahu riwayat penyakit ayah karena kita terlalu sibuk dengan mengejar harta dan tahta dunia.

Sahabat yang budiman! Dibalik kekerasan dan ketegasan ayah sebenarnya tersimpan kelembutan yang sangat luar biasa. Ayah sering berkata keras dan tegas tetapi tanpa sepengetahuan kita ternyata ayah sangat menyesali semua yang ia ucapkan. Ayah sakit tapi tidak pernah mau mengatakan dan memperlihatkan sakitnya. Ayah menderita, tetapi ayang tetap akan selalu tersenyum buat seluruh anak-anaknya.

Lekas bergegas untuk menjaga dan memelihara ayah dengan sebaik-baiknya. Jemput ia dan ajak tinggal bersama keluarga kita sebelum semuanya terlambat. Karena ketika Tuhan telah memenuhi janjinya untuk menjemputnya karena memang Tuhan lebih sayang ayah kita ketimbang kita. Maka semuanya tidak ada gunanya. Semuanya sudah terlambat.

Sahabat yang budiman! Yang ada justru penyesalan kita sebagai anak-anak yang tiada habisnya. Kita merasa semuanya terlalu cepat. Padahal sebenarnya bukan waktu yang terlalu cepat, tapi kita yang tidak peka dan tidak peduli dengan semua yang ayah rasakan. Kita terlalu kaku dengan alasan keluarga. Kita tidak lentur dan terbuka tentang sosok seorang ayah yang sangat mulia. Kita hanya menyesal dan menyesal setelah ayah tiada. Dan semua itu sudah tiada guna!

Post a Comment

2 Comments