loading...

4 Tujuan Pendidikan Budi Pekerti berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015


Sahabat  yang budiman!  Sekolah sebagai salah satu tempat bermain bagi anak-anak pada saat ini juga telah berbenah untuk menciptakan kondisi sekolah yang benar-benar nyaman dengan memperbanyak dan mempercantik taman-tamannya. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah memperbanyak program-program rujukan bagi semua sekolah yang mempunyai komitmen untuk berbenah.  Beberapa program sekolah tersebut antara lain sekolah model, sekolah literasi, sekolah model madani, sekolah adiwiyata.

Semua program tersebut akan menjadikan sekolah sebagai tempat yang benar-benar indah, ramah dan nyaman bagi para peserta didiknya sebagaimana dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara. Hal ini juga sekaligus untuk memastikan bahwa para siswa bahagia dan tenteram, tidak terjadi bullying, tidak terjadi pelecehan seksual, vandalisme, tawuran antar pelajar dan juga kegiatan-kegiatan negatif lainnya.

Sahabat yang budiman!  Dewasa ini kita juga sangat prihatin dengan dunia pendidikan di Indonesia. Banyak kejadian yang malah membuat anak menderita karena perlakuan kasar dari teman atau bahkan gurunya. Kasus bullying atau pelecehan seksual kerap mewarnai perjalanan anak-anak dalam menuntut ilmu di sekolah. Banyaknya peraturan sekolah dengan dalih untuk pendisiplinan malah membuat anak menjadi terkekang dan tidak bebas berekspresi.

Hal lain juga terjadi dimana pada saat hari pertama masuk sekolah rata-rata siswa sekolah menengah harus menjalani Masa Orientasi Peserta Didik Baru (PPDB) yang seringkali melenceng dari tujuan utamanya. Masa PPDB seringkali dijadikan ajang perpeloncoan oleh senior-seniornya. Jika begitu keadaannya, maka sekolah tak ubahnya seperti sebuah penjara . Sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi anak layaknya sebuah taman.

Sahabat yang budiman!  Untuk menyikapi hal tersebut sebenarnya Pemerintah telah mempersiapkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Karakter.  Adapun tujuan dari Penumbuhan Budi Karakter sebagaimana diamanatkan dalam Permendikbud tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan.

Sahabat yang budiman!  Makna sekolah sebagai tempat belajar yang paling menyenangkan terinspirasi dari Bapak Pendidikan Indonesia,  Raden Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang memandang bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan bagi para siswa dalam menuntut ilmu pengetahuan sebagai bekal mereka dimasa depan.

Salah satu karya terbesar  Ki Hajar Dewantara adalah beliau sanggup mendirikan “Taman Siswa” yaitu tempat belajar bagi kaum pribumi ditengah tekanan dan kolonialisme Belanda. Kata ‘taman’ memiliki sugesti yang menyenangkan bagi anak-anak. Di dalamnya, anak-anak dapat merasakan betapa senang dan nyamannya belajar tanpa mengalami hal-hal yang membuat dirinya menderita. Mereka dapat belajar, bermain, dan mengekspresikan dirinya dengan maksimal.

Sahabat yang budiman!  Hal ini juga berarti bahwa pendidikan yang dimaksud dapat menghadirkan sebuah kegembiraan bagi para pelakunya. Sehingga kelak ketika bel sekolah berbunyi anak-anak kita akan hadir dengan senyum lebar menghiasi wajahnya disambut oleh para guru yang penuh keikhlasan dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa.

Penumbuhan Budi Karakter merupakan gerakan yang harus dilaksanakan agar terjalin hubungan yang lebih erat antara orang tua siswa dengan pihak sekolah. Penumbuhan budi pekerti akan mendorong semangat orang tua untuk mengantar anak-anaknya dihari  pertama masuk sekolah.

Sahabat  yang budiman!  Tujuannya agar orang tua dapat berkomunikasi langsung dengan wali kelas anaknya bahkan  dengan guru yang akan mengajar. Hal ini membuka kesempatan yang lebih luas untuk memecahkan persoalan yang dihadapi anak, baik terkait dengan masalah belajar maupun dengan masalah pergaulan di sekolah. Guru tidak perlu khawatir dengan diantarnya anak ke sekolah oleh orang tua, akan menyebabkan anak menjadi pribadi yang tidak mandiri.

Kegiatan lain yang dapat dilaksanakan adalah pihak sekolah wajib melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin. Selama ini, banyak sekolah yang hanya melaksanakan upacara bendera hanya sebulan sekali bahkan setahun sekali pada tanggal 17 Agustus. Selain itu, sebelum memulai aktivitas belajar, siswa wajib berdoa serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sebelum mengakhiri pembelajaran pun siswa wajib menyanyikan lagu nasional atau daerah. Tujuannya untuk menumbuhkan sikap religius, disiplin,  dan cinta tanah air (nasionalisme).

Sahabat  yang budiman!  Ikhtiar untuk mendorong pendidikan sebagai sebuah kegembiraan itu terus kita dorong bersama. Salah satu masalah yang timbul selama ini adalah pendidikan terasa seperti sebuah penderitaan. Ketika menemui guru dan murid mereka mengeluhkan beberapa hal yang tentunya ingin kita bereskan bersama-sama.

2. Menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak di keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Sahabat  yang budiman! Sebagai tempat untuk mengembangkan diri dari berbagai sisi, sekolah harus menerapkan pendidikan karakter yang dapat mengimbangi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Ketiganya harus seiring sejalan agar para siswa memang menjadi generasi yang mempunyai kemampuan dan kompetitif tetapi tetap mempunyai karakter yang baik sesuai dengan norma yang melekat kepada kita sebagai bangsa Indonesia.

Dalam memberikan pendidikan bagi para siswanya harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah. Salah satu regulasi yang ditetapkan adalah penerapan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran siswa. Pembentukan karakter siswa ini apalagi untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)  tentunya akan memberikan bekal bagi kehidupan mereka selanjutnya menghadapi masyarakat dan dunia kerja. Nilai karakter untuk agama akan melengkapi moral, etika hingga budaya yang memang seharusnya ada dalam diri masing-masing siswa.

Sahabat  yang budiman! Penanaman nilai karakter ini akan ikut membangun kepribadian siswa dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya. Sehingga nantinya mereka sudah siap menghadapi dunia masyarakat dan pekerjaan dengan kepribadian luhur, bermoral dan berakhlak baik sebagaimana nilai yang diterapkan semasa masih di sekolah.

Pendidikan karakter dalam pembelajaran dilakukan dengan menggunakan strategi khusus yang akhirnya dapat memberikan pembelajaran karakter di dalam mata pelajaran di kelas.

Sahabat  yang budiman! Pendidikan karakter dalam kurikulum yang memang sudah standar dari pemerintah tentu harus diterapkan dengan baik. Dengan begitu setiap nilai karakter yang harus ada di sekolah bisa diterapkan serta diterima dengan baik oleh para siswa.

Pendidikan karakter dalam budaya sekolah akan membiasakan siswa secara perlahan untuk menerapkan karakter yang baik termasuk nilai agama dalam kehidupannya, dengan begitu nantinya para siswa memiliki bekal karakter terutama dalam penekanan nilai-nilai agama secara lebih mendalam.

Sahabat yang budiman! Dalam proses penerapan karakter di skeolah tentunya semua elemen harus bekerjasama dengan baik. Para siswa harus diberikan strategi yang tepat untuk bisa mengembangkan karakternya seoptimal mungkin sesuai dengan yang diharapkan sebelumnya. Setiap aturan tentunya dibuat untuk bisa memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan karakter siswa selama berada di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.

Pada dasarnya ada dua tahap yang harus dilakukan oleh pihak sekolah dalam hal ini, yaitu tahap perencanaan dan pelaksanaan. Termasuk di dalamnya adalah proses sosialisasi kepada semua elemen yang berkaitan untuk nantinya melakukan implementasi dengan baik. Semua bagian sekolah mulai dari kepala sekolah sampai ke para guru dan staff harus diberikan sosialisasi dengan baik agar nantinya mampu mengikuti budaya mengenai nilai karakter yang harus dikembangkan di lingkungan sekolah.

Sahabat  yang budiman! Dalam proses implementasi pendidikan karakter ini maka perlu dilakukan pengondisian lingkungan sekolah, kelas dan membiasakan karakter serta budaya dalam menanamkan pendidikan karakter pada masing-masing siswa. Interaksi antar siswa dalam menerapkan nilai karakter yang telah didapatkannya di sekolah.

Implementasi pendidikan karakter harus masuk dalam setiap mata pelajaran, hal ini akan berkaitan dengan pembiasaan nilai dan budaya yang dikembangkan sekolah untuk dibiasakan kepada para siswa secara aktif. Setiap hasil pembelajaran tentu perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari masuknya nilai pendidikan karakter dapat memberikan dampak yang positif bagi para siswa.

Sahabat yang budiman! Tentunya beberapa hal tersebut juga harus menyesuaikan diri dengan kurikulum yang ditetapkan untuk sekolah menengah atas saat ini. Guru juga harus berperan dalam memberikan motivasi kepada parasiswa agar mereka mampu menunjukkan karakter yang baik sesuai nilai yang diajarkan dalam pendidikan karakter di sekolah. Dengan begitu anda sebagai guru juga akan lebih mudah dalam melakukan evaluasi terhadap hasil implementasi tersebut.

3. Menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan keluarga.

Sahabat  yang budiman! Implementasi tujuan yang ketiga ini salah satunya adalah program sekolah sahabat keluarga (SSK) yang melibatkan seluruh stake holder untuk turut membantu membenahi sekolah sebagai tempat belajar yang mengajarkan karakter dan budi pekerti bagi seluruh peserta didiknya. Keterlibatan orang tua menjadi hal yang sangat bermanfaat dalam rangka mewujudkan sekolah sahabatt keluarga.

Program ini menganjurkan agar setiap sekolah memiliki lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak dengan melibatkan keluarga maupun masyarakat melalui cara-cara yang kreatif dan inovatif.

Sahabat  yang budiman! Berbagai profesi orang tua dapat dijadikan modal bagi sekolah untuk memperbaiki karakter dan budi pekerti para siswanya. Orang tua dapat menjadi guru, mentor, tutor, motivator, penyuluh bahkan model bagi seluruh siswa. Misalnya ada orang tua yang berprofesi sebagai dokter maka sekolah juga dapat mengundangnya untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan. Begitu juga kalau ada orang tuanya berprofesi sebagai Polisi, Tentara, BNN, dan juga profesi lainnya yang bermanfaat bagi anak-anak maka mereka dapat di undang untuk memberikan motivasi untuk para siswa.

Itulah hakikat sekolah sahabat keluarga (SSK) yang sebenarnya dimana SSK adalah perajut silaturahmi bagi seluruh stake holder pendidikan. SSK juga telah membuat orang tua siswa semakin peduli terhadap kemajuan sekolah yang berdampak positif bagi kemajuan dan masa depan anak-anaknya.

Sahabat  yang budiman! Dalam Program Sekolah Sahabat Keluarga (SSK)  orangtua memiliki tanggung jawab untuk turut serta memajukan sekolah. Orangtua ada rasa memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah melalui ide dan gagasan yang membangun, seperti mewujudkan kenyamanan di kelas dan diluar kelas. 

Salah satu indikator dalam program sahabat keluarga yaitu memiliki komite kelas, yang dimaksudkan sebagai perwakilan orang tua terkait program yang akan dijalankan di kelas. Jika ada orangtua yang ingin menyumbang dalam bentuk materi tidak ada larangan selagi hal tersebut tidak di tentukan jumlahnya dan pungut secara berkala. Dengan adanya sekolah sahabat keluarga dapat memberikan dampak positif dalam peningkatan mutu, serta meningkatkan prestasi siswa baik akademik maupun non akademik.

4. Menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Sahabat  yang budiman! Sebagaimana kita ketahi bersama bahwa dalam rangka mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dan sejalan dengan Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang (RPPNJP) 2005—2025 menyatakan bahwa visi 2025 adalah Menghasilkan Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna).

Visi tersebut sangat penting untuk dipertahankan, dengan tetap mempertimbangkan integrasi pendidikan dan kebudayaan ke dalam satu kementerian. Makna insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas komprehensif, yaitu cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis.

Sahabat  yang budiman! Dengan mangacu kepada Nawacita dan memperhatikan visi 2025, visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, visi Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas, serta integrasi pembangunan pendidikan dan kebudayaan, ditetapkan visi Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga adalah “Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan keluarga yang berkarakter dengan berlandaskan gotong-royong”.

Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan yang berkarakter dapat dimaknai sebagai  terwujudnya tujuh elemen ekosistem. Meskipun pengertian insan sudah tercakup dalam istilah ekosistem, insan tetap disebut tersendiri. Penyebutan secara demikian dimaksudkan untuk memberi tekanan lebih besar pada arti sangat penting dari peran pelaku dalam suatu ekosistem.

Sahabat  yang budiman! Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan keluarga yang berkarakter dapat dimaknai sebagai berikut:

a.Terwujudnya insan yang memiliki karakter positif dan budaya prestasi;

b.Terwujudnya ekosistem pendidikan keluarga yang mendukung penumbuhan karakter positif dan budaya prestasi baik di lingkungan keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat berlandaskan gotong royong.

c.Mewujudkan Lingkungan Satuan Pendidikan yang Kondusif untuk Mendukung Penumbuhan Karakter dan Budaya Prestasi M3

d.Mewujudkan Tata Kelola, Efektivitas Birokrasi, dan Pelibatan Publik dalam Menciptakan Ekosistem Pendidikan Keluarga yang Kondusif.

Sahabat  yang budiman! Sementara , makna Pendidikan bagi keluarga adalah sebagai berikut:

1. Mewujudkan pelaku dalam ekosistem pendidikan keluarga yang kuat adalah penguatan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, masyarakat dalam ekosistem pendidikan dalam menumbuh-kembangkan insan berkarakter dan berbudaya prestasi;

2. Mewujudkan lingkungan satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat yang kondusif untuk mendukung penumbuhan karakter dan budaya prestasi adalah penciptaan suasana pembelajaran, pembiasaan, dan pembudayaan pola perilaku positif kepada anak secara aman, nyaman, dan menyenangkan;

3. Mewujudkan tata kelola, efektivitas birokrasi, dan Pelibatan Publik dalam menciptakan ekosistem pendidikan keluarga yang kondusif adalah optimalisasi berbagai sumber daya dalam menciptakan ekosistem pendidikan keluarga yang mendukung tercapainya pola perilaku positif kepada anak secara akuntabel dan berlandaskan asas gotong royong.

Post a Comment

0 Comments